Senin, 24 Juni 2013



PENGARUH LATIHAN LARI 30 METER TERHADAP
KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA  DALAM  
PERMAINAN SEPAK BOLA PADA SISWA
PUTRA KELAS VII  SMP NEGERI 11
SAMARINDA TAHUN AJARAN
 2012/2013

                                                                 






 














OLEH :

DANIEL GANDUR
NPM. 0811200300575






INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PKO
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2012
PENGARUH LATIHAN LARI 30 METER TERHADAP
KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA  DALAM  
PERMAINAN SEPAK BOLA PADA SISWA
PUTRA KELAS VII  SMP NEGERI 11
SAMARINDA TAHUN AJARAN
 2012/2013











DANIEL GANDUR
NPM: 08112001300575










Skripsi ini diajukan sebagai suatu persyaratan
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

pada

Fakultas Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga









INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2012
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Skripsi            : Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
Nama Mahasiswa     : Daniel Gandur
NPM                        :  08112001300575
Fakultas                    : Ilmu Pendidikan
Program Studi          : Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Jenjang                     : Strata I ( S1 )
Dosen Pembimbing II




Mursalim Lecci, S.Pd, M.Pd
NIDN. 11 160869 01
 
Dosen Pembimbing I




Drs. Wakidi, M.Pd
NIDN. 1125085901
 
Menyetujui,

                                               


Mengetahui,
Dekan FIP




Drs. Suparno, M.Pd
NIDN. 1104046402
 
 




HALAMAN PENGUJIAN

Skripsi ini telah diuji dan dinyatakan lulus pada:
Hari           : Jumaat
Tanggal     : 07 Desember 2012

PENGUJI


TANDA TANGAN


1.      Nama Penguji I      : Drs. Wakidi, M.Pd






2.      Nama Penguji II    : Mursalim Lacci, S.Pd, M.Pd





3.      Nama Penguji III  : Drs. H. Arifin Idris, M.Si






Mengetahui,
Panitia Ujian Skripsi

Ketua,




Drs. H. Suriyansyah Hage, M.Pd
NIDN. 1115036301
Sekertaris,




Drs. H. Poniman, M.Pd
NIDN. 1108087402
ABSTRAK


 DANIEL GANDUR. Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013, dibawah bimbingan bapak Drs. Wakidi, M.Pd selaku dosen pembimbing I (satu) dan bapak Mursalim Lacci, S.Pd, M.Pd selaku dosen pembimbing II (dua).
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013, untuk mengetahui berapa besar pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa putra kelas VII SMP Negeri  11  Samarinda  tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 120 orang siswa, kemudian penulis mengambil sampel dari populasi di atas sebesar 15 %, karena itu jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 18 orang siswa putra.
Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Metode  penelitian lapangan experiment metode ini dilakukan  dengan  cara  melakukan latihan pada  obyek  yang  diteliti, yaitu pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda, dengan meneliti kegiatan siswa dalam mengikuti latihan yang diberikan.
2.      Metode penelitian pustaka (Library Research) yaitu metode penelitian dengan cara meneliti dari laporan-laporan dan bahan-bahan lainnya yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti baik  menjelaskan  data  utama maupun  data  pendukung
Dari hasil analisis data dengan menggunakan Koefisien Korelasi Product Moment untuk mengetahui pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013, maka diperoleh nilai r sebesar 0, 765 yang berarti masuk dalam kategori cukup, karena hasil perhitungan r hitung sebesar 0,765 berada diantara 0,600 sampai dengan 0,800 dari tabel interprestasi nilai rho.
Sedangkan hasil analisis data dengan menggunakan alat uji berupa t-tes untuk mengukur pengaruh antara kedua variabel dan sekaligus untuk menguji Hipotesis yang telah diajukan, maka diperoleh t-hitung sebesar 7, 167 dan nilai t-hitung ini akan diinterprestasi dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% untuk jumlah N = 18 didapatkan nilai t-tabel sebesar 0, 468 dan pada taraf  kesalahan 1% didapatkan nilai t-tabel 0,590 maka t-hitung > t-tabel, berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis altenatif (Ha) yang telah penulis ajukan bahwa : “ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012-2013” diterima.

RIWAYAT HIDUP
A.      DATA PRIBADI
1.         Nama Penulis                     : Daniel Gandur
2.         Tempat/Tanggal Lahir       : Metang, 04 Januari 1990
3.         Jenis Kelamin                    : Laki-Laki
4.         Agama                               : Khatolik
5.         Pekerjaan                           : Mahasiswa
6.         Alamat                               : Jl. KH.Wahid Hasyim Gg.Kampus Biru RT.08
7.         Anak yang ke                    : 5 (Lima) dari 5 bersaudara
8.         Riwayat Pendidikan          : SD Tamat tahun 2002
                                                    SMP Tamat tahun 2005
                                                    SMA Tamat tahun 2008
                                                    Masuk ke IKIP PGRI Kaltim tahun 2008
B.       DATA KELUARGA
9.         Nama Istri                          : -
10.     Nama Anak                       : -
C.      DATA ORANG TUA
11.     Nama Bapak                      : Yosef Jangu
Pekerjaan                           : Bertani
12.     Nama Ibu                           : Yuliana Wijung
Pekerjaan                           : Bertani


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat - Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul ”Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013” tepat pada waktunya.
Skripsi ini disusun sebagai suatu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan Ilmu Kepelatihan Olahraga IKIP PGRI Kalimantan Timur.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada :
1.      Bapak Rektor IKIP PGRI Kalimantan Timur dan Dekan/Kaprogdi Fakultas Ilmu pendidikan Kepelatihan Olahraga IKIP PGRI Kalimantan Timur yang telah berkenan memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi pada IKIP PGRI Kalimantan timur.
2.      Bapak Drs.Wakidi, M.Pd selaku dosen pembimbing I (satu) dan bapak Mursalim Lacci, S.Pd, M.Pd selaku dosen pembimbing II (dua) yang telah banyak membantu penulis dalam memberikan masukan serta bimbingan selama proses penyelesaian skripsi ini.  
3.      Kedua orang tua tercinta ayahanda Yosef Jangu dan ibunda Yuliana Wijung dan seluruh keluarga atas doa dan bantuan moral serta materi selama perkuliahan hingga penyelesaaian skripsi ini.
4.      Teman-teman seperjuangan yang telah begitu banyak memberikan bantuan serta motivasi kepada penulis selama ini sampai terselesainya penyusunan skripsi ini.
5.      Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu yang telah banyak memberikan bantuan tenaga, pemikiran dan pendapat yang berguna bagi penulis.
Semoga Tuhan yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya kepada semuanya atas segala kemurahan dan ketulusan hatinya yang diberikan kepada penulis hingga terselesainya skripsi ini. Akhirnya sebuah pepatah mengatakanTiada gading yang tak retak artinya tiada sesuatu yang sempurna. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh untuk bisa dikatakan sempurna. Oleh karena itu segala tegur sapa, kritik dan saran amat penulis perlukan demi kesempurnaannya. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua.



Samarinda, Nopember 2012
Penulis


Daniel Gandur








 
 









DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL                ....................................................................       i
HALAMAN PENGUJI            ....................................................................       ii
HALAMAN ENGESAHAN    ....................................................................       iii
ABSTRAK                                ....................................................................       iv
RIWAYAT HIDUP                  …………………………………………….      v
KATA PENGANTAR              ....................................................................       vi
DAFTAR ISI                             ....................................................................      vii
DAFTAR TABEL                     ....................................................................       x
DAFTAR GAMBAR                ....................................................................       xi
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang   Masalah     ........................................................       1
B.     Rumusan Masalah                ........................................................       4
C.     Tujuan Penelitian                 ........................................................       4
D.    Kegunaan Penelitian            ........................................................       5
BAB II DASAR TEORI
A.   Kajian Teori ................................................................................ 6
1.    Latihan   ................................................................................       6
2.    Lari 30 meter..........................................................................       19
3.    Menggiring Bola ...................................................................       25
B.    Definisi Konsepsional .................................................................       30
C.    Hipotesis Penelitian .....................................................................       31
BAB III METODE PENELITIAN
A.    Definisi Operasional  ..................................................................       33
B.     Populasi dan Sampel ...................................................................       34
C.     Tempat dan Waktu Penelitian    .................................................       36
D.    Teknik Pengumpulan Data .........................................................       38
E.     Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ...........................       40
BAB IV HASIL PENELITIAN
A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian............................................       43
B.     Data hasil Penelitian      ..............................................................       50
C.     Analisis Data ...............................................................................       52
D.    Pembahasan ................................................................................       56
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan .......................................................................................       57
B.     Saran           .......................................................................................       58             
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN














DAFTAR TABEL
No                                                       Tubuh Utama                                  Halaman
1.        Jadwal Latihan Per Minggu  ..................................................................       36
2.        Program Latihan Lari 30 Meter..............................................................       37
3.        Norma Penilaian Penelitian ....................................................................       40
4.        Interpretasi Nilai Rho ............................................................................       41
5.        Data Keadaan Ruangan SMP Negeri 11 ...............................................       47
6.        Data Keadaan Sarana dan Prasarana SMP Negeri 11 ...........................       48
7.        Data keadaan Siswa Berdasarkan Kelas dan Jenis Kelamin SMP …….
Negeri 11 ...............................................................................................       50
8.        Data Kemampuan Menggiring Bola Pada siswa Putra Kelas VII SMP
 Negeri 11 Samarinda Tahun Pelajaran 2012/2013.................................       51
9.        Analisis Korelasi Product Moment Menggiring Bola dalam Permainan
Sepak Bola Pada Siswa putra Kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda…
tahun ajaran 2012/2013 ..........................................................................       52









DAFTAR GAMBAR
No                                        Tubuh Utama                                                 Halaman
1.        Ayunan Kaki dan Tangan Saat Berlari ..................................................       23
2.        Otot-otot Tungkai Atas dan Bawah ......................................................       24
3.        Menggiring Bola dengan Kaki Bagian Dalam .......................................       29
4.        Menggiring Bola dengan Kura-kura Kaki Bagian Atas .........................       29
5.        Menggiring Bola dengan Kura-kura Kaki Bagian Luar .........................       30
6.        Lapangan Test Keterampilan Menggiring Bola .....................................       39






























BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sepak bola adalah suatu permainan yang mengagumkan. Olahraga yang tidak mengenal batas ras, usia, kekayaan, jenis kelamin atau agama. Sepak bola adalah suatu olahraga yang dikenal setiap orang diseluruh dunia, tua dan muda memainkan, menonton dan membaca tentang olahraga ini. Olahraga ini memiliki ketertarikan dan gairah tersendiri.
Orang sering lupa bahwa di samping semua drama dan keindahannya sepak bola adalah suatu permainan yang sederhana. Permainan ini bertumpu pada beberapa teknik individu, yang bersatu untuk bekerja bersama sebagai suatu tim. Meskipun kemampuan alami merupakan suatu bakat, para pemain tidak dilahirkan dengan teknik dan pemahaman, semua ini adalah hal-hal yang harus dipelajari. Sukses menuntut usaha yang sangat keras, kesabaran, pengorbanan diri dan hasrat untuk memperlajari permainan ini dan mengembangkan diri. Hal yang paling penting, sukses juga menuntut anda untuk  mencintai apa yang anda lakukan.
Gol, gola, goal!. Apa pun bahasa yang kita gunakan, permainan bola mampu memompa gejolak perasaan, menyajikan drama mendalam dan teknik-teknik yang menakjubkan selama 90 menit atau lebih. Sepak bola adalah suatu permainan yang bisa dimainkan di taman, di pantai, atau di stadion besar yang ditonton lewat televisi oleh jutaan orang. Tetapi dimanapun orang bermain sepak bola, permainan ini membangkitkan gejolak perasaan yang sangat hebat dan kesetiaan yang tinggi yang tidak ada dalam permainan lain di dunia.
Tinjauan etimologi mengungkapkan bahwa olahraga adalah kegiatan jasmani dan kegiatan fisik manusia yang berpengaruh terhadap kepribadian dari pelakunya. Kegiatan fisik dalam olahraga adalah merupakan kegiatan yang menuntut kesanggupan jasmani untuk menggunakan tubuhnya secara keseluruhan.
Pembinaan yang mengembangkan olahraga merupakan bagian dari upaya peningkatan kwalitas manusia Indonesia seutuhnya. Peningkatan kwalitas jasmani dan rohani serta mental masyarakat, dengan harapan dapat digunakan untuk membentuk watak kepribadiannya, disiplin dan sportivitas yang tinggi serta meningkatkan prestasi olahraga yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional.
Pembinaan prestasi olahraga itu diarahkan untuk mendukung upaya pencapaian prestasi setinggi-tingginya yang dapat meningkatkan dan mengangkat harkat dan martabat serta citra dan kebanggaan nasional. Dalam peningkatan prestasi ini tidak lepas dari pranan berbagai ilmu seperti fisiologi, psikologi, nutrisi dan kesehatan olahraga.
Untuk meningkatkan prestasi olahraga menuntut adanya berbagai usaha dan pembinaan olahraga. Berbagai cabang olahraga yang telah diciptakan dan dikembangkan dalam masyarakat modern, sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang dikembangkan hingga keseluruh pelosok pedesaan. Pembinaan sepak bola telah tersusun dengan berbagai metode latihan, namun prestasi maksimal belum dapat terwujud. Fenomena ini dapat karena kurangnya kemampuan pemain dalam memperagakan teknik-teknik bermain sepak bola secara tepat.
Berdasarkan penjelasan diatas, jelas bahwa usaha yang dilakukan harus berdasarkan ilmu pengetahuan. Olahraga memang komplek permasalah melibatkan banyak hal dalam penanganannya. Penanganan secara ilmiah dan secara terpadu merupakan hal yang harus dilakukan bila ingin mendapatkan prestasi yang tinggi. Untuk membuat seseorang atlit menjadi besar tidak hanya mengandalkan latihan teknik saja perlu didukung fisik yang baik dan tidak kalah pentingnya adalah psikologis. Pembinaan fisik dan mental mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam mencapai prestasi cabang olahraga.
Dalam usaha untuk menggali informasi yang aktual dibidang olahraga termasuk yang berkaitan dengan kemampuan fisik, teknik serta mental dalam setiap bidang olahraga khususnya bidang sepak bola perlu ditangani sejak dini  mungkin disamping adanya faktor lain yang merupakan permasalahannya. Ini sepatutnya tidak dibiarkan berjalan berkesinambungan tanpa kendali. Kondisi fisik harus dilatih secara kusus pada siswa dengan teratur menurut rencana dan disiplin mencapai prestasi yang tinggi. Siswa yang memiliki kondisi fisik yang baik tentu dengan mudah pula mempelajari teknik-teknik dari setiap cabang olahraga yang ditekuninya.
Berdasarkan penjelasan diatas, jelas dengan latihan kondisi fisik yang baik akan menurunkan tingkat resiko dalam permainan sepakbola serta dapat meningkatkan kekuatan karena kekuatan merupakan salah satu faktor penunjang dalam setiap latihan fisik. Dimana seluruh kegiatan dalam permainan sepakbola hampir semuanya anggota tubuh beraksi dan bekerja. Hanya tangan yang tak bisa digerakkan dengan sengaja untuk mendapatkan bola terkecuali kiper karena adanya peraturan yang mengikat, tetapi unsur tubuh yang dominan gerak adalah kaki.
Kecepatan menggiring bola dalam permainan sepakbola merupakan salah satu unsur penting yang menentukan keberhasilan suatu team, dalam hal ini seorang pemain sedapat mungkin menguasai keterampilan menggiring bola. Dalam melakukan penggiringan bola pada setiap pemain selalu bergerak ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri serta menyilang dengan maksud agar lawan sulit mengetahui arah gerakan yang dikehendaki.
Adapun teknik menggiring bola menurut pendapat Dlive Gifford :
Menggiring bola menuntut keseimbangan yang baik, penguasaan yang luar biasa dan kepercayaan yang besar. Buatlah bola tetap berada didepan anda dan didekat kaki anda tetapi jangan membuat bola berada di bawah kaki anda karena anda bisa lari mendahului bola tersebut. Anda bisa menggunakan punggung kaki anda, dan kaki bagian luar dan dalam untuk menggerakan bola ke depan dan ke samping. (Clive Gifford 2002 : 27)

Berdasarkan latar  belakang yang telah dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013.

B.       Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut : 
Apakah ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013.

C.      Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apakah ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan
menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
2.      Untuk mengetahui berapa besar pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013

D.      Kegunaan Penelitian
Adapun yang menjadi kegunaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai bahan acuan untuk dapat mengetahui metode latihan yang dapat diberikan dalam mengembangkan sepakbola khususnya keterampilan menggirinhg bola.
2.      Sebagai bahan masukan dalam ilmu keolahragawan dan mengembangkan prestasi secara maksimal khususnya pada cabang olahraga sepakbola.
3.      Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan dan memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga IKIP PGRI Kalimantan Timur.












 
BAB II
DASAR TEORI

A.    Kajian Teori
1.      Latihan
a.       Pengertian Latihan
Latihan kecepatan pada prinsipnya adalah memberikan beban kecepatan pada tubuh secara teratur, sistematik berkesinambungan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam melakukan kerja. Berkaitan dengan latihan kecepatan Dangsina Moeloek dan Arjatmo Tjokronegoro menyatakan bahwa :  “latihan kecepatan adalah suatu kegiatan fisik menurut cara dan aturan yang mempunyai sasaran peningkatan efisiensi faal tubuh dan sebagai hasil akhir adalah kesegaran jasmani dan peningkatan kecepatan”. Dangsina Moeloek dan Arjatmo Tjokronegoro (1984 : 12)
Menurut Harsono : “latihan kecepatan  merupakan usaha untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional system tubuh sehingga mencapai prestasi yang lebih baik”. Harsono (1988 : 153). Pendapat lain dikemukakan Andi Sihendro bahwa : “latihan fisik adalah latihan yang ditunjukan untuk mengembangkan dan meningkatkan kondisi seseorang”. Andi Sihendro (1993 : 5). Latihan ini mencakup semua komponen kondisi fisik antara lain kekuatan otot, daya tahan kardiovaskuler, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan, power, kelentukan dan lain-lain.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, latihan kecepatan merupakan salah satu unsur latihan olahraga secara menyeluruh, yaitu untuk meningkatkan kecepatan, prestasi olahraga serta meningkatkan kesegaran jasmani. Dalam pelaksanaan latihan kecepatan dapat ditekankan fakta salah satu komponen kondisi fisik tertentu misalnya, latihan kelentukan atau latihan kelincahaan, maka latihan kecepatan harus ditekankan pada peningkatan unsur-unsur kondisi kecepatan, kelentukan atau kelincahan. Latihan yang dilakukan harus bersifat spesifik sesuai dengan karakteristik komponen kondisi kecepatan yang dikembangkan.

b.      Prinsip-Prinsip Latihan
Prestasi dalam olanhraga dapat dicapai dan ditingkatkan melalui latihan secara intensif. Pelaksanaan latihan harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan yang benar. Menurut Nosseck : “prinsip latihan merupakan garis pedoman yang hendaknya dipergunakan dalam latihan yang terorganisir dengan baik”. (Nosseck 1982 : 14). Agar tujuan latihan dapat dicapai secara optimal, hendaknya diciptakan prinsip-prinsip latihan yang baik dan tepat. Menurut Hamid A. Hamidsyah Noer prinsip-prinsip latihan dalam bidang olahraga meliputi : “(1). Latihan-latihan yang dilakukan hendaknya diulang-ulang,  (2). Latihan yang diberikan harus cukup berat, (3). Latihan harus dilakukan secara teratur dan, (5). Kemampuan prestasi”. (Hamid A. Hamidsyah Noer 996 : 8-11).
Untuk lebih jelasnya prinsip-prinsip latihan tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1)      Latihan harus diulang-ulang
Menguasai suatu teknik cabang olahraga meningkatkan kemampuan fisik, harus dilakukan secara berulang-ulang. Pengulangan gerakan hendaknya dilakukan dengan frekuensi sebanyak-banyaknya. Hal ini dimaksudkan untuk mempermahir teknik yang dipelajari menuju otomatisasi gerakan yang efektif dan efisien. Suharno HP menyatakan bahwa, : “untuk mengoptimalisasikan penguasaan unsur gerakan fisik, teknik, taktik dan keterampilan yang benar atlet harus melakukan latihan berulang-ulang dengan frekuensi sebanyak-banyaknya secara kontinyu”. (Suharno HP 1993 : 22). Pengulangan suatu gerakan yang dilakukan secara terus menerus maka akhirnya gerakan yang dipelajari akan menjadi gerakan yang otomatis. Dengan gerakan yang otomatis sehingga dapat melakukan suatu gerakan dengan cepat dengan menggunakan tenaga yang sehemat mungkin.
2)      Latihan yang diberikan harus cukup berat
Latihan yang diberikan harus cukup berat maksudnya adalah, latihan yang menekankan pada pembebanan latihan yang semakin berat dan prinsip overload. Dengan pemberian beban latihan yang cukup berat akan merangsang tubuh untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Pemberian beban latihan yang cukup berat ini harus berpedoman pada prinsip beban lebih (Overload Principle), dimana melalui rangsangan (stimulasi) maksimal atau hampir maksimal dengan latihan yang kian hari kian meningkat dan kian bertambah berat maka perubahan-perubahan dalam tubuh akan dapat tercapai. Bila pengulangan latihan yang konsisten dan dilakukan berulang kali bila tidak diikuti penambahan beban, maka latihan tersebut tidak akan mencapai tujuan meskipun jumlah pekerjaan yang dilakukan sama. Salah satu hal yang harus tetap diperhatikan dalam peningkatan beban latihan harus tetap berada di atas ambsang rangsang latihan.
3)      Latihan harus cukup meningkat
Perubahan kondisi tubuh setelah melakukan latihan beberapa kali yaitu, organisme akan memiliki daya adaptasi terhadap beban di atasnya. Jika beban latihan telah mencapai suatu kriteria tertentu, tubuh akan makin terbiasa dengan beban tersebut, dan apabila beban tersebut tidak dinaikan. Maka kemampuannya tidak bertambah. Oleh karena itu, beban latihan harus ditambah  atau dinaikan sedikit demi sedikit untuk meningkatkan perkembangannya. Bila suatu latihan yang diberikan  terlalu cepatdengan memberikan beban latihan yang ditingkatkan secara cepat pulamaka akan cepat menyebabkan terjadinya kelainan-kelainan dalam tubuh.        
Seperti dikemukakan Pate Rotella Clenaghan bahwa, : “terlalu cepat tekanan peningkatan latihan dapat menyebabkan kelelahan dan mengganggu penampilan”. (Pate Rotella Clenaghan 1993 : 318).
Pendapat diatas menunjukan bahwa, dalam peningkatan beban latihan harus direncanakan dengan tepat dan disesuaikan dengan kemampuan atlet.  Beban latihan yang terlalu berat dan diberikan dalam waktu yang cepat pula akan meningkatkan tubuh mengalami kelelahan yang berlebihan. Hal ini disebabkan tubuh belum mampu untuk menerima beban yang ditingkatkan secara cepat dan dapat menyebabkan terjadinya  gejala-gejala evertrining.
4)      Latihan dilakukan secara teratur
Latihan yang dilakukan secara teratur dan kontinyu akan membawa tubuh untuk dapat segera menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya secara teratur pula. Latihan yang teratur dilakukan sekali dalam seminggu bertujuan untuk memelihara kondisi fisik. Bila dilakukan sedikitnya tiga kali dalam seminggu atau lebih akan dapat diharapkan peninkatan prestasi yang cukup. Pelaksanaan latihan dapat dilakukan secara teratur, maka harus didukung program latihan yang  tepat.hal ini karena masing-masing puncak prestasi seorang selalu beruba-ubah. Pate Rotella Clenaghan menyatakan : “hanya sedikit olahragawan yang dapat mempertahankan tingkat penampilan puncaknnya disusun sedemikian rupa sehingga penampilan puncak dapat dicapai pada waktu yang diharapkan”. (Pate Rotella Clenaghan 1993 : 3 : 9)
5)      Kemampuan berprestasi
Kemampuan berprestasi dipengaruhi oleh banyak faktor. A. Hamidsyah Noer menyatakan : “kemampuan berprestasi disamping ditentukan oleh factor latihan juga ditentukan faktor usia, jeis kelamin dan kemauan”.  (A. Hamidsyah Noer 1996 : 11). Perlu disadari bahwa prestasi yang akan dicapai seseorang mempunyai batas-batas kemampuan tertentu, tetapi batas-batas kemampuan itu sangat relative  jika pada suatu saat setelah menjalani latihan-latihan, atlet  merasa tidak ada kemajuan, hendaklah  disadari bahwa prestasi yang dicapai sudah hampir  mendekati puncak memang sangat lambat kemajuannya.

c.       Penyusunan Program Latihan
Penyusnan program latihan merupakan salah satu unsur pokok dalam kepelatihan untuk mencapai tujuan secara lebih efektif. Pelatih perlu membuat perencanaan program latihan yang baik. Menurut Suharno HP : “program latihan merupakan pelaksanaan langsung suatu rencana latihan untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu unsur yang harus di perhatikan dengan cermat dalam menyusun program latihan adalah dosis latihan”. (Suharno HP 1985;58). Harsono mengemukakan : “atlet harus berlatih dengan beban keras yang ada di atas ambang rangsang kepekaannya (threshold sensitifity)”. (Harsono 1988 : 103). Pemberian dosis latihan harus direncanakan, disusun dan diprogramkan dengan baik agar tujuan latihan dapat tercapai. Dartgsina Moeloek dan Arjatmo Tjokronegoro menyatakan : “Pada pembuatan program latihan harus meliputi faktor-faktor (1). Tipe latihan, (2). Intensitas latihan, (3).Frekuensi latihan dan lama latihan, (4). Peningkatan”. (Dartgsina Moeloek dan Arjatmo Tjokronegoro 1984 : 12-15)   Agar tujuan latihan dapat dicapai dengan baik, maka faktor-faktor di atas harus diperhatikan dalam penyusunan program latihan. Berhasil dan tidaknya tujuan latihan dapat ditentukan oleh penyusunan program latihan yang diterapkan oleh pelatih. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut :
1)      Tipe latihan
Tipe latihan akan memberikan efek pada faal tubuh sesuai dengan hal yang telah dilakukan. Dalam memberikan latihan harus diperhitungkan dengan cermat mengenai tipe dari unsur yang akan dikembangkan kemampuan lari cepat, maka harus diperhatikan dengan cermat mengenai unsur gerakan dan unsur kondisi fisik yang diperlukan dalam gerakan tersebut. Dengan diketahui hal tersebut maka akan dapat ditentukan dengan tepat mengenai tipe latihan yang bagaimana yang harus diterapkan dalam latihan.
2)      Intensitas
Menurut Suharno HP  intensitas adalah : “takaran yang menunjukkan kadar atau tingkatan pengeluaran energy atlet dalam aktivitas jasmani baik dalam latihan maupun pertandingan”. (Suharno HP 1993 : 31). Intensitas latihan menyatakan beratnya latihan dan merupakan faktor utama yang mempengaruhi efek latihan terhadap faal tubuh. Makin berat latihan (sampai batas tertentu) makin baik efek yang diperoleh. Intensitas latihan yang diberikan tidak boleh terlalu tinggi atau terlalu rendah. Intensitas suatu latihan yang tidak memadai atau terlalu rendah, maka pengaruh latihan yang ditimbulkan sangat kecil bahkan tidak ada sama sekali. Sebaliknya intensitas latihan terlalu tinggi dapat menimbulkan cedera.
Salah satu faktor yang berkaitan dengan intensitas latihan adalah repetisi dan set. Suharno HP menyatakan repetisi adalah : “Ulangan gerakan beberapa kali atlet harus melakukan gerakan setiap giliran”. (Suharno HP 1993 : 32). Suatu keterampilan atau kondisi fisik akan meningkat jika gerakan dalam latihan dilakukan secara berulang-ulang. Semakin banyak ulangan gerakan dilakukan, maka akan diperoleh peningkatan kemampuan atau keterampilan yang lebih baik. Sedangkan set menurut M. Sajoto adalah : “suatu rangkaian gerakan dari suatu repetisi”. (M. Sajoto, 1995 : 34). Hal ini menunjukkan bahwa, suatu gerakan harus diulang-ulang dan beberapa kali rangkaian gerakan tersebut harus dilakukan. Semakin banyak frekuensi ulangan gerakan yang dilakukan dalam suatu rangkaian gerakan, maka akan diperoleh otomatisasi gerakan yang lebih baik.
3)      Frekuensi latihan dan lama latihan.
Frekuensi dan lama latihan merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam
pelaksanaan latihan. Frekuensi merupakan jumlah beberapa kali latihan dilakukan setiap minggunya. Sedangkan lamanya latihan yaitu lamanya waktu yang dilakukan dalam latihan sampai mendapatkan pengaruh yang nyata.  Kemampuan seseorang atlet tidak dapat meningkat jika hanya melakukan latihan sekali atau dua kali frekuensi latihan saja. Kemampuan seseorang atlet akan meningkat jika melakukan latihan dengan frekuensi tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula. Berkaitan dengan hal tersebut M. Sajoto  menyatakan : “Para pelatih dewasa ini umumnya setuju untuk menjalankan latihan tiga kali seminggu, agar tidak terjadi kelelahan yang kronis. Adapun lama latihan yang diperlukan adalah selama 6 minggu atau lebih”. (M. Sajoto 1995 : 35)
Latihan yang dilakukan 3 kali seminggu secara teratur selama 6 minggu kemungkinan sudah menampakkan pengaruh yang berarti terhadap peningkatan kemampuan kondisi fisik atau keterampilan yang lebih baik.
4)      Peningkatan
Kemampuan seseorang akan meningkat jika dalam pelaksanaan latihan bebanya ditingkatkan secara terus menerus. Proses adaptasi fisik manusia terhadap ransangan berupa beban latihan berlangsung dengan pelan, oleh karena itu peningkatan beban harus dilakukan secara progresif dalam arti setahap demi setahap, agar tidak jadi cedera atau kelainan pada tubuh. Peningkatan beban latihan harus dilakukan dengan segera setelah terjadi peningkatan kemampuan dan atlet tersebut. Dengan peningkatan beban yang teratur akan diperoleh kemajuan dengan pasti secara tepat.

d.      Latihan  fisik
Kemampuan  fisik  merupakan  salah  satu  faktor  penting  dalam  mencapai  prestasi,  seperti  kekuatan,  kecepatan,  kelincahan,  kelenturan,  dan  sebagainya. Pelaksanaan  latihan  kepada  atlet  harus  benar  dan  tepat.  Benar  dalam  pengertian  menyangkut  isi  pengetahuan  atau  ilmu  yang  digunakan,  sedangkan  tetap  dalam  arti  perkenaan  dengan  cara  atau  bentuk  latihan   yang  dipergunakan  untuk  mencapai  pengetahuan  atau  ilmu  yang  dianggap  benar.
Bentuk-bentuk  latihan  fisik  terus  menerus  mengalami  perkembangan,  akibatnya  terdapat  beberapa  bentuk  latihan  fisik  yang  pelaksanaannya  beraneka  ragam.  Ini  berarti  membuktikan   bahwa  usaha-usaha  penelitian  dalam bentuk latihan fisik  telah banyak di lakukan, namun masih ada saja permasalahan yang perlu di cari . Soekarman  mengemukakan bahwa: “Kondisi fisik yang dapat dicapai melalui latihan yang keras dan cara latihan tidak cukup dengan latihan olahraga itu saja, tetapi harus di persiapkan secara khusus sesuai dengan kebutuhan dan masing-masing cabang olahraga”. (Soekarman, 1987 : 53)
Bertitik tolak dari pendapat tersebut di atas kondisi fisik itu atlit memegang peranan yang sangat peting dalam program latihan kondisi fisik  harus di rencanakan  secara baik sistematis dengan tujuan untuk meningkatkan kesegaran dan jasmani dan kesmpurnaan fungsional dari sistim tubuh sehingga dengan demikian mungkin atlit  untuk mencapai prestasi yang lebih baik. Dengan kondisi  fisik yang baik  maka  akan ada peningkat  di dalam kemampuan suatu cabang  olahraga tersbut. Selanjutnya akan  di uraikan pengaruh latihan kondisi fisik terhadap komponen-komponen kondisi fisik atlit.
1)      Kecepatan 
Dalam  berbagai  cabang  olahraga  kecepatan  merupakan  komponen  fisik  yang  ensensial. Kecepatan  adalah  kemampuan untuk  melakukan  gerakan   sejenisnya  secara  berturut-turut  dalam  waktu  yang  sesingkat-singkatnya. Menurut  Harsono, mengemukakan  bahwa : “Kecepatan  adalah  kemampuan  untuk  melakukan  gerakan-gerakan  yang  sejenisnya  secara  berturut-turut  dalam  waktu  yang  sesingkat-singkatnya,  atas  kemampuan  untuk  menempuh  suatu  jarak  dalam  waktu  sesingkat-singkatnya”. (Harsono  1998 : 216).
Dari  uraian  diatas,  dapat  dikatakan  bahwa  kecepatan  adalah  kemampuan  fisik  bergerak  dalam  waktu  yang  sesingkat  mungkin,  kecepatan  bukan  berarti  mengerakkan  seluruh  tubuh  dengan  cepat  akan  tetapi  dapat  pula  terbatas   pada  anggota  tubuh  yang  lain.
Kecepatan  memegang  peranan  yang  sangat  penting  dalam  menunjang  prestasi  seorang  atlet.  Dalam  kegiatan  olahraga  ada  tiga  jenis kecepatan. Menurut  Messak  diterjemahkan  bebas  oleh  Harsono  yaitu :
1.      Sprinting  of  speed  yaitu  kemampuan  bergerak  menuju  kedepan  dalam  waktu  yang  singkat.  Berhasilnya  sprinting  of  speed  tergantung  dari  kemampuan  untuk  melakukan  frekwensi  pergantian  kaki  sebanyak  mungkin  dan  setiap  pergantian  kaki (langkah) akan  menghasilkan  jarak  yang  sejauh  mungkin.
2.      Reaction  of  speed  yaitu  kemampuan  reaksi  dalam  waktu  yang   sesingkat-singkatnya  setelah  menerima  rangsangan.
3.      Speed  of  movement  adalah  kemampuan  kecepatan  kontraksi  otot  terhadap  suatu  gerakan  yang  tidak  terputus (Harsono, 1988 : 56)

Kecepatan  yang  juga  sebagai  salah  satu  kemampuan  dasar  yang  telah  dimiliki  oleh  setiap  orang, namun  intensitasnya  berbeda  dimana  dipengaruhi  oleh  latihan  yang  dilakukan  juga,  perbedaan  seseorang  dengan  orang  lain  dipengaruhi  oleh  jenis  otot  dimiliki,  banyaknya  jaringan  otot  yang  terlibat  dan  ukuran  dari  otot.
Dari  gerakan  pada  cabang  olahraga  sepakbola  khususnya  pada  teknik  menggiring  bola  nampak  bahwa,  unsur  kecepatan  memang  memegang  peranan  penting  untuk  mencapai  suatu  sasaran,  karena  membutuhkan  kecepatan  gerak  kedepan  dan  kontraksi  otot  untuk  penampilan  kerja  maksimal.


2)      Kelincahan
Kelincahan  asal  katanya  lincah  berarti  cekatan,  tangkas  dan  giat.  Soekarman  mendefenisikan  kelincahan  yaitu :  “kemampuan  untuk  mengubah  arah  yang  sekoyong-koyongnya  dalam  kecepatan  tinggi”. (Soekarman,  1987 : 3)  Harsono   mengemukakan  bahwa :  “kelincahan  adalah  kemampuan  untuk  mengubah  arah  dan  posisi  tubuh  dengan  cepat  dan  tepat  pada  waktu  sedang  bergerak  tanpa  hilang  keseimbangan  dan  kesadaran  akan  posisi  tubuh”. (Harsono,  1988 : 172).
Sedangkan  menurut  Nurhasan  mengemukakan  bahwa :  “kelincahan   adalah   kemampuan  gerak  kesegala  arah  dengan  mudah   dan cepat.  Orang  yang  mempunyai  kelincahan  yang  tinggi  memungkinkan  orang  itu  bergerak  kesegala  arah  dengan  cepat  dan  mudah”. (Nurhasan. 1986 : 45).
Berdasarkan  rumusan  dari  teori  oleh  para  ahli  diatas  dapat  disimpulkan  bahwa  kelincahan  mengandung  arti  kemampuan   dan  kesiapan  tubuh  seseorang  untuk  merubah  arah  dengan  cepat,  dalam  waktu  yang  sesingkat  mungkin  tanpa  penggunaan  dan  keseimbangan.
Dalam  permainan  sepakbola  kelincahan  merupakan  hal  yang  penting  karena  pemain  tersebut  akan  dengan  mudah  menghindar  dari  lawan  pada  saat  menggiring  bola   untuk  melakukan  passing.  Seseorang  yang  memiliki  tingkat  kelincahan  yang  tinggi  akan  dengan  mudah  merubah  arah  pada  posisi  yang  berbeda  dalam  kecepatan  yang  tinggi.  Kemampuan  merubah  gerakan  dengan  baik  yang  dimiliki  oleh  seseorang  pemain  merupakan  kebanggaan  tersendirinya  baginya.  Karena  tidak  semua  pemain  sepakbola  dapat  mencapai  prestasi  yang  demikian  sebagaimana  yang  dikemukakan  oleh  Arma  Abdullah  bahwa : “kecepatan  reaksi  dan  merubah   arah  sangat  diperlukan  dalam  permainan  sepakbola”. (Arma  Abdullah, 1984 : 419).
Dari  uraian  diatas, jelas  bahwa kelincahan  merupakan  unsure  fisik  yang  sangat  penting  dan sangat  besar  manfaatnya  dalam  meningkatkan prestasi  olahraga. Abdul  Adib  Rani  mengemukakan  tentang  manfaat  kelincahan  sebagai berikut :
a.       Koordinasi  gerakan-gerakan  dalam  olahraga  dengan  baik.
b.      Gerakan-gerakan olahraga yang dilakukan adalah secara praktik dengan ekonomis sehingga tidak cepat menimbulkan  kelelahan.
c.       Menjaga keseimbangan dalam gerakan sehingga pelaksanaan gerakan selanjutnya dapat dilakukan dengan sempurna.
d.      Bermanfaat untuk menguasai tehnik yang tinggi dalam cabang olahraga yang dikutinya. (Abd  Adib  Rani,1992 : 43)

Dengan  demikian  untuk  mencapai  prestasi  yang  optimal  atlit  perlu  meningkatkan  kelincahanya.  Agar  atlit  dapat  bergerak  dengan  lincah  khususnya  pada  pergerakan  menggiring  bola  pada  permainan  sepakbola.

3)      Kelentukan
Kelentukan  adalah  unsur  fisik  yang  penting  dan  hampir  semua  cabang  olahraga  terutama  cabang  olahraga  yang  banyak  memuat  gerak  sendi-sendi  seperti  dalam  permainan  sepakbola  khususnya  menggiring  bola.
Kelentukan  asal  katanya  lentuk  berarti   berlekuk  atau  dilekukan (tidak  kaku) lentur.  Abdul   Adib Rani  memberikan  defenisi  kelentukan  yaitu :  “suatu  kemampuan  seseorang  dalam  melakukan  gerakan  dengan  ampflitudo  yang  luas”.
(Abd  Adib   Rani, 1992  :45)
Apabila  seseorang  mempunyai  ruang  gerak  yang  luas  dalam  sendi-sendinya  serta  memiliki  otot  yang  elastis  maka  orang  itu  memiliki  fleksibilitas  khususnya  otot-otot  pada  perut.  Otot  yang  kaku  tidak  elastis  biasanya  terbatas  ruang  gerak  sendi-sendinya.  Jadi  kalau  seseorang  lama  tidak  melakukan  latihan  maka  otot-ototnya  berkurang.  Dari  penguraian  batasan  kelentukan  diatas  maka  kelentukan  dapat  dikembangkan  melalui  proses  latihan  peregangan  otot  dan  latihan  memperluas  gerak  sendi.  Haesono  mengemukakan  bahwa : “kelentukan  dapat   dikembangkan  melalui  latihan (1). Peregangan  dinamis  (2).  Peregangan  statis  (3). Peregangan  pasif  (4). Peregangan  kontrasi  relaksi”. (Harsosno, 1988 : 164)
Gerakan  efisien  dalam  berbagai  kemampuan  memelukan  tingkat  kelentukan   yang  tinggi.  Meskipun  tiap  kemampuan  memerlukan  kelentukan  yang   berbeda-beda  tetapi  diperlukan  suatu  program  pengembangan  kelentukan  secara  umum,  termasuk  didalamnya   peregangan  kelompok  otot  sendi. 
Menurut  harsono  mengemukakan  bahwa  perbaikan  dalam  kelentukan  akan  dapat :
1.      Mengurangi  kemungkinan  cedera  pada  otot  dan  sendi.
2.      Membantu  dalam  mengembangkan  kecepatan,  koordinasi  dan  kelincahan.
3.      Membantu   mengembangkan  prestasi.
4.      Menghemat  pengeluaran  tenaga  pada  waktu  melakukan  gerakan-gerakan.
5.      Membantu  memperbaiki  sikap  tubuh. (Harsono, 1988 : 63)

Dengan  demikian  adanya  faktor-faktor  tersebut  diatas   yang  sangat  penting  bagi  atlit   karena  atlit  yang  mempunyai  kelentukan  yang   baik,  mempunyai  peluang  yang  lebih  besar  dalam   berprestasi  dibandingkan  dengan  atlit  yang  tidak  memiliki  kelentukan


2.      Lari 30 meter
a.       Pengertian lari 30 meter
Istilah kecepatan lazimnya dipergunakan untuk menyatakan kemampuan berpindahnya sebuah benda. Adapun pengertian lari sprint 30 meter menurut Fred Mc Mane adalah : “seorang pelari harus memperoleh kecepatan tinggi dalam waktu sesingkat mungkin untuk mencapai jarak 30 meter”. (Fred Mc Mane 1983 : 15) 
 Bidang olahraga sangat membutuhkan unsur kemampuan dasar yaitu lari. Di dalam berbagai cabang olahraga, lari atau kecepatan merupakan komponen fisik yang esensial, contohnya terhadap lari untuk melakukan serangan baik dalam permainan sepak bola. Adapun pendapat lain tentang lari 30 meter yaitu menurut Harsono didefinisikan sebagai : “kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”. (Harsono 1988 : 216). Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Harsono ini, maka lari 30 meter dapat dikatakan sebagai kemampuan organisme seseorang untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Lari 30 meter merupakan unsur gerak dasar yang berguna untuk mencapai prestasi maksimal. Lari 30 meter diartikan sebagai waktu yang digunakan untuk menyatakan suatu perpindahan sebuah benda. Hal ini ditegaskan oleh Jensen dkk. dalam tinjauan biomekanikanya digambarkan sebagai berikut :


Keterangan :
V = Velocity
S = Speed
T = Timer
(Jensen dkk. 1981 : 97)
Berdasarkan uraian di atas, lari 30 meter merupakan hasil perbandingan antara jarak yang ditempuh dengan waktu yang dicapai. Jarak yang harus ditempuh diidentifikasikan sebagai beban aktivitas, sedangkan besarnya tenaga yang dicurahkan menentukan waktu yang ditempuh. Pemanfaatan tenaga dalam lari memegang peranan penting, dapat pula dikatakan bahwa tingkat kecepatan lari ditentukan oleh seberapa banyak curahan tenaga yang dilibatkan untuk aktivitas yang dijalankan.
Lari bukan berarti menggerakan seluruh anggota tubuh dengan cepat, tetapi dapat pula terbatas pada menggerakan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pemanfaatan kecepatan lari  dalam keterampilan gerak berolahraga dapat dibedakan dalam beberapa jenis, sebagaimana yang dikemukakan oleh Pamo yaitu :
1)      Kecepatan lari (sprinting speed) adalah kemampuan organisme atlit bergerak ke depan dengan kekuatan dan kecepatan maksimal untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
2)      Kecepatan reaksi (reaction Speed) adalah kemampuan organisme atlit untuk mencapai hasil sebaik-baiknya.
3)      Kecepatan bergerak (speed of movement) adalah kemampuan seseorang atlet untuk bergerak secepat mungkin dalam suatu gerakan yang tidak terputus. (Pamo 1992 : 116)

Ketiga macam kecepatan diatas yang dikemukakan oleh Pamo selalu dipergunakan dalam keterampilan berolahraga. Manfaat yang ditunjukkan yaitu :
1)      Kecepatan lari, merupakan salah satu macam keterampilan yang digunakan di dalam berbagai cabang olahraga seperti atletik, sepak bola dan lain-lain. Di dalam keterampilan lari, untuk melakukan serangan balik, unsur kecepatan merupakan faktor yang paling menentukan. Oleh karena itu kecepatan merupakan potensi yang perlu ditingkatkan dan dimiliki.
2)      Kecepatan reaksi, adalah perbedaan waktu antara aksi fisik dengan rangsangan yang dikirim oleh sistem saraf dari otak. Semakin singkat waktu yang dicapai berarti semakin tinggi pula waktu reaksinya. Keadaan ini menimbulkan presepsi bahwa kecepatan reaksi akan mempengaruhi kecepatan bergerak. Setiap cabang olahraga memanfaatkan unsur kecepatan reaksi dengan alasan seseorang atlit harus dapat memberikan keputusan berupa tindakan seseorang mungkin atas kesepakatan yang terjadi dalam waktu yang sama.
3)      Kecepatan bergerak, adalah kemampuan anggota-anggota tubuh tertentu untuk melakukan aksinya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan bergerak dapat dilihat ketika seseorang melakukan gerakan-gerakan sprint dalam lari jarak pendek.
Adapun pendapat lain yaitu menurut Ballesteros mengemukakan pandangan tentang lari 30 meter adalah : “lompatan yang berturut-turut”. (Ballesteros 1979 : 14). Alasan dari pada ini karena adanya sebuah fase dimana kedua kaki melayang. Siklus keseluruhan dimulai dari saat dimana kaki mulai melangkah kemudian menyentuh tanah dan sampai kemudian menyentuh tanah lagi, jadi di dalam gerakan berlari terdiri dari tiga tahap yaitu :
1)      Tahap melangkah  
Mata kaki dan lutut yang melangkah diluruskan pada saat titik berat badan bergerak
di depan kaki yang menumpu dan mendorong pinggul ke depan. Pada saat yang bersamaan, kaki yang lain terangkat, yang disebut kaki bebas, ditekuk dan bergerak ke depan dan ke atas membuat gerakan ke depan. Ekstensi maksimum dari kaki yang melangkah bersamaan dengan mengangkat paha dari sebelah kiri, ekstensi tersebut ke depan sampai ke jari-jari kaki. Kedua tangan mengayun dan memberi imbangan gerak terhadap kedua kaki. Ketika ayunan lengan mencapai titik maksimal, bersamaan itu pula telah terjadi gerak dorongan akhir, sehingga ayunan akan berakhir ketika siku pada titik belakang. Lutut tungkai lainnya akan mencapai ketinggian maksimal di depan. Lengan diayun sedikit menyilang di depan dada dengan membentuk sudut 90 derajat dengan kecepatan lari sebagaimana juga gerak pada posisi tubuh yang hampir tegak tanpa membungkukkan ke depan atua ke belakang.
2)      Tahap pemulihan kembali
Sekali gerak melangkah itu selesai, dimana sentuhan pada tanah yang dibuat oleh kaki selesai maka titik pusat berat badan diproyeksikan dengan arah parabola. Pada tahap ini kecepatan jadi hilang, kaki yang melangkah di angkat ke belakang, sedangkan kaki yang lainnya ke depan dan ini terbentuk tarikan kaki ang aktif ketika kaki menyentuh tanah. Dalam pada itu, kaki belakang membuat gerakan yang berulang-ulang dan lengan berayun dengan arah yang berlawanan. Siklus ini dapat disebut sebagai tahap relaksasi dalam melayang atau tahap pemulihan.
3)      Support
Pada tahap support ini waktu kontak dengan tanah mulai terjadi, atau “tahap penerimaan” pada saat mana penurunan titik pusat berat badan terjadi (dalam hal ini kaki). Sebagian telapak kaki menyentuh tanah terlebih dahulu barulah kemudian seluruh telapak kaki menyentuh tanah dengan mengeper sehingga kaki betul-betul menginjak ke tanah. Pada saat yang sama lutut sedikit dibengkokkan sebagai persiapan unutk melangkah, sedangkan lutut yang lain ketika bergerak ke depan terus dibengkokkan seiring dengan ayunan lengan ke depan.
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7x2IZOZYXXJ8w1uGMNOcK-JfvPofEVamUx1hxS2mMRSyc_lDE
 
 




Gambar 1 : Ayunan kaki dan tangan ketika berlari
Sumber : Anggar Tombak  10 Sep 2011/23:4. Kawandnews.Sport.com


b.      Komponen-komponen dalam kecepatan lari
Diketahui bersama bahwa, aktivitas apapun bentuknya selalu melibatakan sistem jaringan otak untuk mengadakan kontraksi. Otot merupakan bagian tubuh yang mempengaruhi penampilan seseoarang dalam penampilannya. Kecepatan lari sebagai salah satu kemampuan gerak dasar yang telah dimiliki oleh setiap orang. Pada hakekatnya setiap aktivitas yang memanfaatkan unsur kecepatan lari tergantung dari system perototannya. Oleh sebab itu, Jansen. C. R. dan kawan-kawan mengungkapkan pandangannya, setelah diterjemahkan bahwa : “perbedaan seseoarang dengan orang lainnya dipengaruhi oleh jenis otot yang dimiliki, banyaknya jaringan otot yang terlibat dan ukuran dari otot”. (Jansen. C. R. 1981 : 169)
Jenis otot dapat dibedakan berdasarkan kajian motor unit, menurut Fox, dkk. bahwa :
“The muscle fiber within a given motor unit may be either fast-twitch (FT) or slow-teach (ST) fibers, but not both”. (Tinjauan Fox ini setelah diterjemahkan secara bebas mengungkapkan bahwa di dalam jaringan otot terdapat sebuah motor unit kemungkinan memiliki jenis otot cepat (fast twitch) atau jaringan otot lambat (Slow twitch), tetapi tidak memiliki keduanya). (Fox, dkk. 1989 : 128)
 













Antara otot cepat dan otot lambat memiliki kemampuan yang berbeda, karena pada otot yang cepat (FT) hanya mampu melakukan gerak dalam beberapa saat saja, sedangkan pada otot lambat (ST) memiliki kemampuan melakukan aktivitas dalam waktu yang lama. Tinjauan berikut tentang komponen-komponen yang mempengaruhi kecepatan dikemukakan oleh Harsono bahwa kecepatan juga dipengaruhi oleh : “1) Kekuatan (Sterength), 2) Waktu reaksi (reaction time), dan 3) Kelentukan (flexsibility)” Harsono (1988 : 101)
Selain pandangan-pandangan tentang faktor yang mempengaruhi di atas, Bompa mengungkapkan pula pandangan dengan komponen yang mempengaruhi kecepatan, yaitu : “1) Keturunan (heredity),2) Waktu reaksi (reaction time), 3) Kemampuan untuk mengatasi tahanan (agility to overcome external resistance) 4) Teknik (technique), 5) Konsentrasi dan semangat (concentration and will power)” (Bompa, 1985 : 294)
Latihan lari 30 meter merupakan jarak yang ditempuh dengan lari cepat (sprint) untuk mencapai waktu yang sesingkat-singkatnya. Semakin singkat waktu yang digunakan semakin baik pula kecepatannya. Lari 30 meter merupakan bentuk lari sprint yang membutuhkan tenaga (power), daya ledak dan waktu reaksi (kecepatan reaksi) sebagai pendukung terciptanya kecepatan yang tinggi.
3.      Menggiring bola
a.       Pengertian menggiring bola
Menggiring bola merupakan salah satu teknik dasar dalam permainan sepak bola yang harus dikuasai oleh setiap pemain. Menggiring bola adalah gerakan dalam permainan sepak bola yang mengandung unsur seni, karena adanya penggunaan beberapa bagian kaki yang menendang atau menyentuh dengan cara menggulingkan bola ditanah sambil berlari. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ilyas Haddad dan Ismsail Tola sebagai berikut : “Menggiring bola adalah bahwa bola dalam control sambil berlari, bola tetap dalam penguasaan (bola berada didekad kaki) dan dalam penguasaan untuk memainkan”. (Ilyas Haddad, 1991 : 50).
Jadi menggiring bola adalah cara membawa bola dengan menggunakan kaki dengan tujuan agar bola yang akan ditendang kegawang lawan akan lebih dekat. Menurut Adib Rani menjelaskan bahwa : “menggiring bola adalah istilah sepak bola untuk lari dengan bola”. (Adib Rani, 1992 : 27).
Jadi berdasarkan penjelasan di atas dapat diartikan bawasanya pengertian menggiring bola adalah membawa bola dengan berbagai teknik sentuhan bola untuk membuka daerah atau melewati lawan sehingga pemain mendapat kesempatan untuk melakukan passing atau tembakan ke gawang.
Dengan menguraikan pengertian menggiring bola, maka jelas bahwa menggiring bola adalah salah satu teknik dasar yang memegang peranan penting dalam permainan sepakbola.
Dengan demikian apabila setiap pemain sudah memiliki teknik penguasaaan bola dengan baik dan benar sangatlah menentukan keberhasilan suatu team atau kesebelasan. Apabila keterampilan terebut dicapai dengan baik dengan sempurna dalam tempo yang singkat, maka semua bentuk latihan yang pernah diberikan hendaknya diulang-ulang secara tekun agar semakin mantap. Karena menggiring bola adalah keterampilan teknik yang dilakukan dengan cara menggunakan berbagai gerakan kaki sambil berlari.
Untung Suharjo memberikan pendapat sebagai berikut : “Salah satu tuntutan teknik yang harus dikuasai dalam menggiring  bola adalah lari sambil menggiring bola”. (Untung Suharjo, 1984 : 34). Oleh karena itu untuk meningkatkan keterampilan dalam bermain sepakbola, khususnya dalam menggiring bola tentu harus latihan yang teratur dan sistematis dengan metode dan bentuk latihan yang tepat.
Dalam hal ini, pemain harus selalu berusaha membebaskan diri, melindungi bola bergerak maju melakukan gerakan dasar dan tipuan dalam menggiring bola. Sehubungan dengan hal ini Yusup Baktiar mengemukakan pendapat sebagai berikut : “semakin baik penguasaan bola dan semakin mudah seseorang pemain dapat melepaskan dari suatu situasi yang gawat, maka semakin memuaskan mutu permainan kesebelasan itu”. (Yusup Baktiar, 1988 : 11).
Jadi jelas bahwa menggiring bola adalah suatu usaha untuk menguasai bola, atau untuk merebutnya kembali bila sedang dikuasai oleh lawan. Dengan demikian apa yang dikehendaki oleh setiap pemain untuk mencapai suatu prestasi yang maksimal akan menjadi kenyataan.

b.      Teknik menggiring bola
Dalam permainan sepak bola dikenal dua cara teknik. Teknik dengan menggunakan bola dan teknik tanpa menggunakan bola, jadi teknik bermain bola adalah semua gerakan-gerakan yang berguna dalam permainan sepak bola.
Menggiring bola merupakan salah satu teknik dalam bermain sepak bola, dimana hal ini sangat berguna dalam situasi permainan tanpa menguasai teknik dasar seseorang tidak dapat bermain dengan baik. Menurut M.F. Siregar mengatakan bahwa : “Pelaksanaan suatu kegiatan secara efektif dan rasional yang memungkinkan tercapainya hasil-hasil yang baik dalam pertandingan”. (M.F. Siregar, 1975 : 32)
Salah satu unsur yang sangat penting untuk dikuasai oleh seorang pemain adalah menggiring bola. Tanpa penguasaan teknik menggiring bola sukarlah bagi seorang pemain untuk bermain dengan baik, karena teknik menggiring bola sangat berguna dalam situasi permainan. Teknik menggiring bola dapat dimiliki atau dikuasai apabila dipelajari dan dilatih dengan baik secra kontinyu.
Ilyas Haddad dan Ismail Tola mengemukakan bermacam-macam teknik menggiring bola dalam permainan sepakbola sebagai berikut: “1) Menggiring bola dengan kaki bagian dalam, 2) Menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian dalam, 3) Menggiring bola dengan kura-kura bagian atas, 4) Menggirng bola dengan kura-kura bagian luar”. (Ilyas Haddad dan Ismail Tola, 1991 : 51)
Untuk mengetahui lebih lanjut, maka perlu diuraikan tentang empat teknik menggiring bola atau teknik dasar menggirng bola.
1)      Menggiring bola dengan kaki sebelah dalam
Menggiring bola dengan kaki sebelah dalam adalah menggiring dengan persentuhan antara bola dengan kaki bagian sebelah dalam atau dengan kata lain bahwa membawa dengan bagian sebelah dalam. Bagian kaki dalam baik sekali karena bagian kaki yang menyentuh bola daerahnya luas. Namun gerakan ke depan sangat lambat akibat posisi kaki tidak berjalan atau searah dengan gerakan kaki ke depan.
Untuk menganalisis teknik pelaksanaanya menggiring bola pada umumnya yang dianalisis adalah sikap dan posisi yang meliputi kaki tumpu, kaki sentuh dan badan adalah sebagai berikut :
a)      Kaki tumpu diletakkan di samping bola yang sedang mengelindingkan ke depan, berat badan pada kaki tumpu, pada saat bola disentuh maka kakitumpu kembali melangkah ke depan.
b)      Kaki sentuh mulai terangkat pada saat kaki tumpu menyentuh tanah langsung bola disentuh dengan bidang perkenaan pada kaki bagian dalam, ujung kaki diputar kelur sehingga bagian kaki yang berhadapan dengan bola.
c)      Badan tetap condong ke depan untuk mengimbangi keseimbangan serta mempercepat proses gerakan ke depan.
Untuk lebih jelasnya menggiring bola dengan menggunakan kaki bagian
dalam dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 3 : Menggiring bola dengan kaki bagian dalam
Sumber : menggiring bola 10 Sep 2011 at 10.30. kawandnews.Sport.com
2)      Menggiring  bola  dengan  kura-kura  kaki  bagian  atas
Mengiring  bola  dengan  kura-kura  kaki  bagian  atas,  tidak  seluas mengiring  bola  dengan  kura-kura  kaki   bagian  lain  yang  banyak  dipergunakan  dalam  permainan.  Karena  praktis  untuk  memperoleh  kecepatan  dalam  mengiring  bola  kedepan.  Hal  ini  disebabkan  karena  posisi  kaki  bergerak  ke depan  secepat  mungkin.
Untuk  lebih  jelasnya  pelaksaan  mengiring  bola  dengan  mengunakan  kura-kura  kaki  bagian  atas  dapat  dilihat   pada  gambar  berikut  ini :
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTv0PBDqgxxDJQkaBa1Y9B_a_FjKe_0W_DdxLm56FzjLlGPN0x57A
Gambar 4. Menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian atas
Sumber: menggiring bola 10 Sep 2011 at 10.30. kawandnews.Sport.com

3)      Menggiring  bola  dengan  kura-kura  kaki  bagian  luar
 Menggiring  bola  dengan  kura-kura  kaki  bagian  luar  pada  dasarnya  mempunyai  persamaan  dengan  tehnik-tehnik  yang  lain.  Hanya  disini  bidang  perkenaannya  dengan  bola   lebih  luas  sehingga  memudahkan   peraturan   gerak  bola  sesuai  kehendak   pemain.
Cara  menggiring  bola  dengan  kura-kura  kaki  bagian   luar  mempunyai   tujuan  yaitu  dapat  menggerakan  bola  dengan  terarah  kedepan  dengan  kaki  bergerak  dengan  sikap  untuk  berlari   dan  dapat   memberi  bola  dengan  tiba-tiba  karena  sikap  dan  posisi  duduk  harus  sedemikian  sudah  selalu  siap  untuk  mengadakan  pasing  kearah  lawan.
Untuk  lebih  jelasnya  mengenai  kaki  dan   tehnik  menggiring  bola  dengan  kura-kura  kaki  bagian  luar  dapat  dilihat  pada  gambar  dibawah  ini:
Gambar 5. Menggiring bola dengan kura-kura kaki bagian luar
Sumber : menggiring bola 10 Sep 2011 at 10.30. kawandnews.Sport.com


B.     Definisi  Konsepsional   
Dari  uraian  yang  telah  dikemukakan  terlebih  dahulu  berikut  ini  akan  diberikan  defenisi  konsepsional  tentang  masalah  yang  berkaitan  dengan  penelitian
ini  nanti  yaitu :
1.      Latihan lari 30 meter adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya pada jarak 30 meter dan merupakan bagian yang dibutuhkan dalam permainan sepak bola.
2.      Keterampilan  menggiring  bola  dalam  permainan  sepakbola  adalah  tingkat  kemampuan  seseorang  siswa  dalam  mengembangkan  tehnik  menggiring  bola baik dengan menggunakan kaki bagian dalam, bagian luar maupun dengan punggung kaki dengan  adanya  latihan  lari 30 meter dapat meningkatkan kecepatan menggiring bola.

C.    Hipotesis  Penelitian
Untuk  mencari  hubungan  antara  gejala-gejala maka  dirumuskanlah  suatu  dugaan  sementara  tentang  hubungan  antara  gejala  yang  satu dengan  gejala  yang  lain.  Dugaan  itulah yang  sering  disebut  hipotesis.  Hipotesis  sangat  berperan  dalam  satu  penelitian  karena  secara  garis  besar   hipotesis  memberikan  arah  dan  membatasi  masalah  yang  akan  diteliti  agar  penelitian  dapat   tehindar  dari   kekeliruan.  Jawaban  sementara  yang  perlu  diuji  kebenarannya  pada  dasarnya  hipotesis  dirumuskan   dengan  maksud  untuk   mengambarkan  antara  variable-variabel  dalam  penelitian. Menurut Winarno Surachmand mengartikan hipotesis sebagai berikut:
Secara etimologi hipotesis berarti sesuatu yang masih kuarng dari (hipo) sebuah  pendapat (thesis) dengan  kata lain  hipotesis  adalah   sebuah  kesimpulan, tetapi  kesimpulan  ini  belum final,  masih  harus  dibuktikan  kebenarannya.  Hipotesis  adalah  suatu  jawaban,  dugaan  yang  dianggap  besar  kemungkinannya  untuk  menjadi  jawaban  yang  benar. (Winarno Surachmad, 1984 : 28)
Hal ini  sesuai  dengan  pendapat  Melly  G  Tan yang  dikutip oleh  Koentjaraningrat  yang  mengatakan  bahwa  peranan  hipotesis  dalam  suatu   penelitian adalah  sebagai  berikut:
1.      Memberikan  tujuan  yang  tegas  bagi  suatu  penelitian
2.      Membantu  dalam  penentuan  arah  yang  harus  ditempuh  dalam  pembatasan   ruang  lingkup  penelitian, dengan  memilih  fakta-fakta  yang  relefan  dan  fakta-fakta  yang  menjadi  pokok  persoalan.
3.      Menghindari   suatu  penelitian  yang  terarah  dan  tidak   bertujuan  serta  menyimpulkan  data  yang  mungkin  ketika  ada  hubungannya  dengan  masalah  yang  akan  diteliti. (Koentjaningrat, 1980 :36 – 37)

Berdasarkan  kajian  teoritis  dan  kerangka  pemikiran  tersebut  dalam  penelitian  dirumuskan  hipotesis  seperti   berikut :
1.      Hipotesis  alternatif  (Ha) “ada  pengaruh antara  latihan  lari 30 meter terhadap  keterampilan  menggiring  bola  dalam  permainan  sepakbola  pada  siswa  putra kelas  VII  SMP  Negeri 11  Samarinda.
2.      Hipotesis  nihil (Ho) “tidak  ada  pengaruh  antara  latihan  lari 30 meter terhadap  keterampilan  menggiring bola  dalam  permainan  sepak  bola  pada  siswa  putra kelas VII  SMP  Negeri  11 Samarinda.











 
BAB  III
METODE   PENELITIAN

A.    Defenisi   Operasional
Sebelum penulis defenisi operasional tentang masalah yang diteliti, terlebih  dahulu penulis kemukakan beberapa pengertian tentang definisi operasional menurut Masri Singaribun  yaitu sebagai berikut : “Definisi operasional  adalah  unsur  penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya  mengukur suatu  variabel. Dengan  kata lain  semacam petunjuk  pelaksanaan  ilmiah  yang  amat membantu  peneliti yang lain  ingin  mengunakan  variabel  yang  sama”. (Masri  Singaribun, 1989 : 46)

 Sedangkan   menurut  Koentjaraningrat, mengatakan  pendapat  tetang  definisi  operasional  adalah  sebagai  berikut : “tidak  lain dari  pada  mengubah  konse-konsep  yang  berkonstruk  itu  dengan  kata-kata  yang  menggambarkan  perilaku  atau  gejala  yang   diamati, dapat  diuji  dan  ditentukan  kebenarannya  oleh  orang  lain”. (Koentjaraningrat, 1980 : 23)
Berdasarkan beberapa definisi operasional yang telah disebutkan diatas dan di penelitian ini juga meliputi dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah latihan lari 30 meter dan variabel terikat adalah kemampuan menggiring bola. Kedua variabel tersebut dapat dioperasionalkan sebagai berikut :
1.     
35
 
Latihan  lari 30 meter adalah suatu  bentuk  latihan lari sprint dan merupakan bagian dari pada lari jarak pendek dengan jarak 30 meter. Adapun yang menjadi barometernya adalah kecepatan lari, semakin cepat lari yang dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, maka semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai jarak tempuh 30 meter. Latihan  lari 30 meter dalam  penelitian ini  merupakan  variabel  bebas  dengan  diberi simbol  X, dengan indikator-indikator sebagai berikut :
a.       Lari dengan sangat cepat
b.      Lari dengan cepat
c.       Lari dengan cukup cepat
d.      Lari dengan cukup
e.       Lari dengan kurang cepat
2.      Kemampuan menggiring bola merupakan perwujudan dari kualitas koordinasi  dan  kontrol  pada  bagian  tubuh  yang  terlibat  dalam  gerakan,  serta  salah  satu  tehnik  dasar  dalam  permainan  sepakbola  yang  harus  dikuasai   oleh  setiap  pemain  dalam  menggiring  bola.  Kemampuan  menggiring  bola  dalam  penelitian  ini  merupakan  variabel  terikat  dengan  diberi simbol Y, dengan indikator-indikator sebagai berikut :
a.       Menggiring bola dengan sangat baik
b.      Menggiring bola dengan baik
c.       Menggiring bola dengan cukup baik
d.      Menggiring bola dengan cukup
e.       Menggiring bola dengan kurang baik

B.     Populasi  dan  Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah sejumlah objek yang akan diteliti dalam suatu penelitian dalam suatu wilayah tertentu yang diteliti. Menurut  Sutrisno  Hadi  populasi  adalah : “seluruh  obyek  yang  dimaksud  untuk  diteliti,  populasi  dibatasi  oleh sejumlah  subyek  atau  individu  yang  paling  sedikit mempunyai sifat  yang  sama”. (Sutrino  Hadi, 1984 : 220)
Pendapat  yang lain menurut  Marsi  Singaribun  dan   Sofyan  Efendi  mengartikan  populasi  sebagai  berikut : “populasi  atau  universe  ialah  jumlah  keseluruhan  dari  unit  analisa yang  ciri-cirinya  akan  diduga”. (Marsi Singaribun  dan  Sofyan  Efendi, 1985 : 108)
 Berdasarkan  uraian  diatas  populasi  penelitian  yang   digunakan  dalam penilitian ini sesuai dengan judul yang diajukan penulis yaitu seluruh siswa putra kelas VII  SMP Negeri  11  Samarinda  tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 120 orang siswa.

2.      Sampel
Sampel adalah merupakan bagian dari populasi yang diteliti. Adapun tujuan pengambilan sampel adalah untuk memperoleh keterangan mengenai obyeknya, dengan jalan mengambil sebagian saja dari populasi sehingga penelitian dapat dilakukan lebih efektif dan efisien.
Menurut Sutrisno Hadi, dijelaskan maksud pengambilan sampel yaitu sebagai berikut :
Di dalam banyak hal seorang penyelidik tidak mampu atau tidak merasa perlu menyelidiki semua peristiwa atau kasus melainkan sebagian saja, penyelidikan semacam inilah yang kita kenal dengan penyelidikan sampel atau sampling studi di lapangan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa jika dipandang tidak mungkin atau tidak praktis menyelidiki seluruh objek atau kasus (populasi), maka diambil contoh atau sampel secukupnya dan representatif dari seluruh populasi atau kasus”. (Sutrisno Hadi, 1988 : 23).

Sehubungan dengan pendapat di atas  maka dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel dari populasi sebesar 15 %, karena itu jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 18 orang siswa putra.

C.    Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 11 Samarinda pada bulan Agustus sampai September 2012 selama 16 kali pertemuan
Adapun Jadwal Latihan per Minggu adalah sebagai berikut :
Tabel 1 : Jadwal latihan per minggu

      Hari
Jam
Tempat
Selasa
Sabtu

16.00 – 17.00
16.00 – 17.00
Lapangan  sepak bola
SMP Negeri   11
Samarinda
Sumber : data proses penelitian

Adapun alokasi penggunaan waktu dalam  satu  kali  pertemuan dirinci sebagai  berikut :
1.      Latihan  pemanasan 
Sebelum  melakukan  latihan  inti  para  peserta  harus   diberikan pemanasan (warming  up)  kurang  lebih  10 menit,  kemudian  diberikan  peregangan  (strectihing) sebanyak-banyaknya sehingga akan  memperoleh  manfaat  sebagai  berikut :
a.       Mengurangi  ketegangan  otot  dan  tubuh lebih  ringan
b.      Membantu  koordinasi  dengan  memberikan  kebebasan  dan  kemudahan  bergerak
c.       Meningkatkan  rentang  gerak  persendian
d.      Mencegah  terjadinya  cedera  seperti  problem pada  otot
e.       Memperlancar  sirkulasi
2.      Latihan  inti
Setelah  melakukan pemanasan, selanjutnya  memasuki  latihan  inti sesuai  dengan  program latihan  yaitu  mengadakan  latihan  lari 30 meter selama 40 menit dilanjutkan dengan bermain sepak bola 40 menit.

3.      Latihan  pendinginan
Setelah  latihan  inti  dilakukan  kemudian  diahiri  dengan  latihan  pendinginan  yang  mana  mempunyai  tujuan  untuk  menurunkan  suhu  badan  atau  pengaruh  rangsangan  pada  sistem  otot  akibat  latihan  dan untuk  mencegah terjadinya  pengenangan  darah.  Latihan  ini  dilakukan  kurang  lebih  10  menit.
Adapun materi  program  latihan  lari 30 meter untuk  2 (dua)  kali  dilakukan  setiap  minggu  selama  16 (enam   belas) kali pertemuan adalah sebagai berikut :
Tabel 2 :  Program   Latihan  lari 30 Meter

Xperimen
Kegiatan
Experiment
Set
Repetisi
Interval Dalam Repetisi
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
30 meter
3
3
3
3
5
5
5
5
10
10
10
12
12
12
15
15
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
1 menit
Sumber : materi penelitian

D.    Tehnik   Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan  data  penulis menggunakan  beberapa  cara yaitu : metode  penelitian lapangan experiment metode ini dilakukan  dengan  cara  melakukan latihan pada  obyek  yang  diteliti, yaitu pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda, dengan meneliti kegiatan siswa dalam mengikuti latihan yang diberikan.
Metode Penelitian Pustaka (Library Research) yaitu metode penelitian dengan cara meneliti dari laporan-laporan dan bahan-bahan lainnya yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti baik  menjelaskan  data  utama maupun  data  pendukung.
1.      Alat dan fasilitas.
Alat  dan  fasilitas  yang  digunakan  dalam  pelaksaan tes-tes ini, perlu  disiapkan karena  masalah  alat  dan  fasilitas pelaksaan  dan  pelaksanaan tes merupakan  penentu tingkat validitas  data yang  digunakan  atau  diproleh.
Adapun  alat  atau  fasilitas  yang digunakan  dalam penelitian ini adalah :
a.       Alat
1)      Bola
2)      Tiang
3)      Stop  Watch
4)      Pluit
5)      Formulir  test  dan  alat  tulis
6)      Kamera (alat  dokumentasi)
7)      Meteran
b.      Fasilitas
Lapangan  bola

c.       Pelaksanaan penelitian
Test  keterampilan  menggiring  bola
1)      Tujuan : Untuk mengetahui kemampuan dari sampel tentang keterampilan menggiring bola
2)      Pelaksanaan  test
a)      Teste  berdiri  dibelakang  bola menghadap  kearah  yang  harus  ditempuh  dan  bola  berada  dibelakang  garis  start.
b)      Setelah teste siap, maka teste memberi aba-aba “mulai” teste  segera  menggiring bola  melewati  antara  tongkat-tongkat yang  dipasang  harus  dilewati disebelah rintangan yang  berlawanan dengan  lewatnya  menggiring  bola. Prosedur  pelaksanaan  test  dapat  dilihat  pada  gambar berikut :
Lapangan tes menggiring bola :










Gambar 7. Lapangan test keterampilan menggiring bola
Sumber : Nur Ichsan Halim (1991 : 121)
c)      test  dilakukan   sebanyak 2 (dua) kali  ulangan, kemudian dicatat  dan  diurutkan  sesuai  urutan  yang  dihasilkan  waktu  tercepat. Waktu yang  tercepat diberi skor tertinggi 5 dan terendah 1
Adapun tabel norma penilaian dalam pelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 3 : Norma Penilaian Penelitian

No
Nama Siswa
Waktu Tempuh
Skor
Predikat
1

1-5 detik
5
Sangat cepat
2

6-10 detik
4
Cepat
3

11-15 detik
3
Cukup cepat
4

16-20 detik
2
Cukup
5

21-25 detik
1
Kurang cepat
Sumber : Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 1998 : 70

3)      Penilaian : hasil  yang dicatat  adalah  waktu yang dicapai   teste, menggiring  bola  dari  start  sampai  finis, sesuai ketentuan  jalur yang berlaku.

E.     Tehnik  Analisis Data dan  Pengujian  Hipotesis
Analisis data bertujuan  agar  data  yang  dipeoleh dapat  diuji  kebenarannya  serta  untuk mengetahui  ada  tidaknya  hubungan  antara  latihan  lari 30 meter  terhadap keterampilan menggiring  bola. Maka  tehnik  analisis  data  yang diajukan  dalam   penelitian  ini  adalah  regresi  linear  sederhana  sebagai  berikut :
                   Y = a + bx (j. Supranto, 2007 : 120)
b =
a =                                                                 


Dimana :
Y     = Tehnik  menggiring  bola
X     = Latihan  lari 30 meter
Untuk mengetahui  hubungan   kedua  variabel  dengan  rumus
dimana :
rxy    = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
X     = Latihan lari 30 meter
Y      = Kemampuan menggiring bola
n       = Banyaknya sampel yang diteliti
     = Jumlah
Sebagai acuan interprestasi dan korelasi tersebut diatas, menurut ukuran yang konservatif oleh Sutrisno Hadi berpendapat sebagai berikut :
Tabel 4 : Interprestasi Nilai Rho

Interval Korelasi

Kategori
Anatar 0,800 s.d. 1,000
Antara 0,600 s.d. 0,800
Antara 0,400 s.d. 0,600
Antara 0,200 s.d. 0,400
Antara 0,000 s.d. 0,200
Tinggi
Cukup
Agak Rendah
Rendah
Sangat Rendah (tidak berkorelasi)
5
4
3
2
1
 (Sutrisno Hadi, 1997 : 275)


Kriteria :
Jika r ≤ - 1,      maka  terdapat  pengaruh  yang  tidak  searah  antara latihan lari 30 meter dengan kemampuan  menggiring  bola.
Jika r ≥ +1,      maka  terdapat pengaruh  yang  searah  antara  latihan  lari 30 meter dengan  kemampuan  menggiring  bola.
Jika r = 0,        maka  tidak ada  pengaruh  antara   latihan  lari 30 meter dengan   kemampuan menggiring  bola.
Untuk menguji tingkat keeratan pengaruh dan sekaligus untuk membuktikan hipotesis yang telah diajukan, maka kembali penulis mengujinya dengan menggunakan rumus t-test sebagai berikut :
        
Dimana :
r     =    artinya  koefisien  korelasi  yaitu  untuk mengetahui  pengaruh kedua  variabel
    =    artinya  koefisien  determinasi  yaitu  untuk  mengetahui  pengaruh  variabel X terhadap variabel Y
N   =    jumlah sampel
Hipotesis :
Jika   : t hitung  lebih besar  t tabel  maka  hipotesis  yang  diajukan  diterima  sedangkan.
Jika  : t  tabel  lebih  besar  dari  t  hitung  maka  hipotesis  yang  diajukan  ditolak.


 
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Sebelum penulis menguraikan data-data yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian ini, terlebih dahulu penulis sampaikan gambaran umum dari obyek penelitian, yakni data-data yang berhubungan dengan keberadaan SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013.

1.      Sejarah berdirinya.
SMP Negeri 11 Samarinda adalah salah satu sekolah menengah pertama  yang berlokasi dijalan Perjuangan 7 Rt.01 No. 55 Kel. Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda Utara Samarinda Kalimantan Timur kode pos 75119
SMP Negeri 11 Samarinda didirikan berdasarkan SK Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Timur tanggal 22 Nopember 1985. Sejak tahun pelajaran 1985/1986 SMP Negeri 11  Samarinda telah tercatat dengan status terdaftar berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Departemen Pendidikan Nasional Propinsi Kalimantan Timur Nomor : 594/O/1985 Tanggal 22 Nopember 1985 tentang jenjang Akreditas bagi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri dengan statistik sekolah (NI) Nomor : 30401018 dan Nomor Sekolah (NPSN 30.2.16.050012).



2.      Kelengkapan administrasi.
Berikut ini merupakan rincian umum tugas dan tanggung jawab pengelola SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013
a.       Fungsi dan tugas Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam:
1)      Menyusun perencanaan
2)      Membuat program kegiatan
3)      Pengorganisasian
4)      Ketenangan instafling
5)      Pengarahan
6)      Pengkoordinasian
7)      Pengawasan
8)      Penilaian
9)      Identifikasi dan pengumpulan
10)  Penyusunan laporan
b.      Fungsi dan tugas wali kelas
Wali kelas sebagai pembantu kepala sekolah dalam:
1)      Mengelola kelas dan administrasi kelas
2)      Pembuatan statistik bulanan siswa
3)      Pengisian daftar nilai siswa (lengger)
4)      Pengisian buku laporan pendidikan (Raport)
5)      Catatan khusus siswa
6)      Pencatatan mutasi siswa
7)      Pembagian buku laporan pendidikan (Raport)
8)      Menjadi tanggung jawab utama atas kebersihan kelas
c.       Administrasi kurikulum /pengajaran.
Di SMP Negeri 11 Samarinda bagian administrasi kurikulum pengajar dikordinasikan oleh bapak Satjan Sitohang, S.Pd, M.Pd. Adapun program urutan kurikulum antara lain :
1)      Menyusun program pengajaran
2)      Menyusun pembagian tugas guru
3)      Menyusun jadwal pelajaran
4)      Menyusun jadwal evaluasi belajar
5)      Menyusun kriteria dan persyaratan naik/tidak naik kelas/lulus
6)      Menyusun pelaksanaan US/UN
7)      Menyusun jadwal penerimaan Rapor dan ijasah
8)      Supervisi dan evaluasi KBM
9)      Mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan program suatu pelajaran
10)  Menyediakan daftar buku acara guru dan siswa
11)  Menyusun laporan pelaksanaan pengajaran secara berkala
d.      Administrasi kesiswaan.
Bagian urusan kesiswaan di SMP Negeri 11 Samarinda dikoordinasikan oleh bapak Mujiayana,S.Pd.
Adapun program urusan kesiswaan antara lain :
1)      Menyusun program pembinaan kesiswaan/OSIS
2)      Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan pengendalian siswa/OSIS dalam rangka menegakkan kedisiplinan dan tata tertib sekolah Membina dan melaksanakan koordinasi 10 K yaitu :
a)      Keagamaan,
b)      Kebersihan,
c)      Ketertiban,
d)     Keindahan,
e)      Kekeluargaan,
f)       Kerindangan,
g)      Kemandirian
h)      Keteladanan,
i)        Kejujuran dan
j)        Ketaqwaan
3)   Memberikan pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS
4)   Melakukan pembinaan pengurus OSIS dalam berorganisasi
5)   Menyusun program dan jadwal pembinaan siswa secara berkala dan insidentil
6)   Melaksanakan pemilihan calon siswa teladan/bea siswa
7)   Mengadakan pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
8)   Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan secara berkala
e.       Administrasi kepegawaian.
Administrasi kepegawaian di SMP Negeri 11 Samarinda dilaksanakan oleh bagian tata usaha.
Administrasi kepegawaian sekolah meliputi :
1)      Penyusunan program kerja tata usaha
2)      Penyusunan keuangan sekolah
3)      Pengurusan administrasi ketenagaan dan siswa
4)      Pembinaan dan pengembangan karier pegawai tata usaha
5)      Penyusunan perlengkapan administrasi dan pengarsipan sekolah
6)      Penyusunan dan penyajian data statistik sekolah
7)      Mengkoordinasikan dan melaksanakan 10 K
8)      Penyusunan laporan kegiatan ketatausahaan secara berkala.
f.       Administrasi Perlengkapan / Sarana prasarana.
Urusan  perlengkapan /sarana dan prasarana antara lain : pengadaan pemeliharaan /perawatan preventif gedung, ruang belajar dan perlengkapan (meubeler) serta penataan dan penggunaan barang inventaris sekolah seperti : alat-alat kantor dan bahan laboratorium, buku perpustakaan, media pendidikan, dan lain-lain
Adpun tugas dan tanggung jawab dari bagian administrasi perlengkapan /sarana dan prasarana meliputi :
1)      Merencanakan kebutuhan sarana prasarana penunjang KBM
2)      Merencanakan program pengadaan sarana dan prasarana
3)      Mengiventarisasikan dan mengatur pemanfaatan sarana dan prasarana
4)      Mengelola perawatan, perbaikan dan pengembangan sarana dan prasarana
5)      Menyusun pembukuan dan laporan secara berkala.
Adapun laporan keadaan sarana dan prasarana di SMP Negeri 11 Samarinda periode 2012/2013  antara lain :
1.      Keadaan Ruang

Tabel 5 : Data keadaan ruangan  SMP Negeri 11
No
Jenis Ruang
Jumlah
Luas m2
Jumlah
Ket.
Baik
Sedang
Rusak
1
R.Kelas
15
63
9
6


2
R Perpustakaan
1
135
1



3
R.Ketrampilan
1
117
1



4
R.Kepala Sekolah
1
24
1



5
R,Wakil Kepsek
1
24
1



6
R.Guru
1
90
1



7
R.Tata Usaha
1
90
1



8
R.Ganti
-
-
-



9
R.BK
1
14
1



10
R.Ibadah
1
100
1



11
R.Aula/Serbaguna
1
180
1



12
R.UKS
1
20
1



13
R.Pramuka
-
-
-



14
R.Media
1
63
1



15
R.Osis
-
-
-



16
R.Kantin
-
-
-



17
R.Kopersai
1
12
1



18
R.Sirkulasi
-
-
-



19
R.Gudang
-
-
-



20
R.Klinik
-
-
-



21
Lab. IPA
1
117
1



22
Lab Komputer
1
63
1



23
Pos Keamanan
1
4
1



24
Kamar Kecil Guru
2
22,5
2



25
Kamar Kecil Siswa
6
90
3
3


Sumber : Bagian Sarana dan prasarana SMP Negeri 11 Samarinda

2.      Keadaan Sarana dan Prasaran

Tabel 6 : Data keadaan sarana dan prasarana SMP Negeri 11

No
Jenis  Sarana
Jumlah
Total
Ket


Baik
Sedang
Rusak


1
Meja Siswa
425
150
25
600

2
Kursi Siswa
425
150
25
600

3
Meja Guru
33


33

4
Kursi Guru
33


33

5
Meja Lain
1


1

6
Meja Tamu
1


1

7
Lemari
11
4
2
17

8
Kursi Lain
25

2
27

9
Kursi Istirahat Siswa
-
-
-
-

10
Computer
6


6

11
LCD
1


1

12
Laptop
3


3

13
T
1


1

14
Rak
6


6

15
Papan Tulis
15


15

16
Papan Data
5


5

17
Papan Pengumuman
2


2

18
Jenset
1


1

Sumber : bagian sarana dan prasarana SMP Negeri 11 Samarinda

g.      Administrasi Humas
Urusan hubungan masyarakat dalam membantu kepala sekolah dalam,
1)      Mengatur, membina dan menyelengarakan hubungan sekolah dengan orangtua/wali siswa, POMG/BPPP, dan lembaga/instansi terkait
2)      Menyusun laporan hubungan masyarakat secara berkala
h.      Administrasi Guru
Tugas dan tanggung jawab guru kepada kepala sekolah dalam:
1)      Membuat perangkat program pengajaran
a)      Rincian hari belajar efektif dan tidak efektif
b)      Rincian minggu efektif
c)      Silabus pelajaran
d)     Program semester
e)      Rencana program pembelajaran (RPP)
f)       Program mingguan
g)      Alat pembelajaran/peraga
h)      Melaksanakan kegiatan pembelajaranPenyampaian materi pelajaran
i)        Ulangan harian, umum/semester, praktik
j)        Analisis hasil belajar, perbaikan dan pengayaan
k)      Mengisi daftar hadir siswa
l)        Memperhatikan kebersihan lingkungan, kelas/praktikum

2)      Melaksanakan tugas tertentu
3)      Mengumpulkan dan menghitung angka kredit naik pangkat
4)      Selanjutnya data keadaan guru lihat pada lampiran.
i.        Keadaan Siswa.
1)      Jenis siswa bedasarkan kelas dan jenis kelamin.
Data siswa SMP Negeri 11 Samarinda berdasarkan kelas dan jenis kelamin dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 7 : Data keadaan siswa berdasarkan kelas dan jenis klamin SMP Negeri 11
No
Kelas
Jumlah
Jumlah Siswa
Naik
Tidak
naik
Pindahan
Rombel
Kelas
L
P
Jml
Masuk
Keluar
1
VII
8
8
120
80
200




2
VIII
8
-
143
136
279



-
3
IX
8
8
143
111
254




Jumlah
24
16
406
327
733




Sumber : Bagian kesiswaan SMP Negeri 11 Samarinda


                                                            
B.     Data Hasil Penelitian
Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013, maka penulis mengadakan penelitian lapangan. Dalam penelitian ini penulis mengolah data yang bersifat kuantitatif sebab datanya masih harus diidentifikasi dalam bentuk angka.
Populasi yang diteliti adalah siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 120 orang siswa putra dan sampel yang diambil adalah sebanyak 18 orang siswa putra atau sebesar 15,00% dari jumlah populasi.
Adapun data hasil tes menggiring bola sebelum dan sesudah latihan pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013 adalah sebagai berikut :
Tabel 8 : data kemampuan menggiring bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013



Menggiring Bola
No
Nama Siswa
Tes Sebelum Latihan
Tes Setelah Latihan
Waktu
Skor
Waktu
Skor
1
Adit
16 detik
2
13 detik
3
2
Ahmad Faisal
14 detik
3
10 detik
4
3
Aldi Akhmad Saputra
17 detik
2
14 detik
3
4
Cornelis Dimetrio C
13 detik
3
5 detik
5
5
Gustiawan Haeludin
19 detik
2
8 detik
4
6
Marsie
24 detik
1
18 detik
2
7
Reza Dika
18 detik
2
13 detik
3
8
M . Adam .H
19 detik
2
17 detik
2
9
M.Alfi
15 detik
3
8 detik
4
10
M. Hani Abdul Rohim
20 detik
2
12 detik
3
11
M. Iqbal
14 detik
3
5 detik
5
12
M. Nuryadin
19 detik
2
7 detik
4
13
M. Rahu F
12 detik
3
10 detik
4
14
M.Surya Saputra
25 detik
1
11 detik
3
15
Rahmat Dermawan
17 detik
2
14 detik
3
16
Rezky Darmawan
23 detik
1
12 detik
3
17
Riki Ananta
14 detik
3
4 detik
5
18
Vincent.Y
18 detik
2
14 detik
3
Sumber : diolah dari hasil penelitian lapangan

Keterangan :
Skor 5 = kategori menggiring bola dengan sangat baik
Skor 4 = kategori menggiring bola dengan baik
Skor 3 = kategori menggiring bola dengan cukup baik
Skor 2 = kategori menggiring bola dengan cukup
Skor 1 = kategori menggiring bola dengan kurang baik

C.    Analisis Data
Dari data hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013 dan bila dikaitkan dengan penjelasan atau analisis pada bab sebelumnya, maka selanjutnya dimasukan dalam tabel kerja perhitungan korelasi Product Moment seperti yang terlihat di bawah ini :
Tabel 9 : Analisis Korelasi Product Moment menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013.


Menggiring Bola



No
Nama Siswa
Sebelum Latihan
 Setelah Latihan
X²
Y²
XY
X
Y



1
Adit
2
3
4
9
6
2
Ahmad Faisal
3
4
9
16
12
3
Aldi Akhmad Saputra
2
3
4
9
6
4
Cornelis Dimetrio C
3
5
9
25
15
5
Gustiawan Haeludin
2
4
4
16
8
6
Marsie
1
2
1
4
2
7
Reza Dika
2
3
4
9
6
8
M . Adam .H
2
2
4
4
4
9
M.Alfi
3
4
9
16
12
10
M. Hani Abdul Rohim
2
3
4
9
6
11
M. Iqbal
3
5
9
25
15
12
M. Nuryadin
2
4
4
16
8
13
M. Rahu F
3
4
9
16
12
14
M.Surya Saputra
1
3
1
9
3
15
Rahmat Dermawan
2
3
4
9
6
16
Rezky Darmawan
1
3
1
9
3
17
Riki Ananta
3
5
9
25
15
18
Vincent.Y
2
3
4
9
6
Jumlah
39
63
93
235
145
Sumber : diolah dari data tabel sebelumnya

Berdasarkan data hasil analisis Korelasi Product Moment di atas, maka dirumuskan lagi ke dalam sebuah hasil tabel persiapan perhitungan koefisien korelasi dapat diketahui :
n          =   18
∑X      =    39
∑Y      =    63
∑X²     =    93
∑Y²     =    235
∑XY   =    145
Berdasarkan data tersebut selanjutnya dapat disajikan analisis koefisien korelasi product moment sebagai berikut :
 b = 
= 
= 
=
=    1
a = 
     = 
     = 
     = 
=  1, 333
1.      Untuk mencari regresi dengan rumus sebagai berikut :
Y   =    a + bx
      =    1 + 1,333X
Dengan ini diperoleh persamaan linear yaitu Y = 1 + 1,333X yang berarti peningkatan perubahan latihan lari 30 meter satu satuan akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan keterampilan menggiring bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda sebesar = 1,333
2.      Untuk melihat hubungan keeratan kedua variabel dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
r       = 
       = 
                        = 
       =
       = 
       = 
r       =    0,765
Hasil perhitungan diperoleh koefisien korelasi (r) = 0,765 berarti mempunyai hubungan keeratan kedua variabel hal ini karena dinilai dari r itu sendiri
3.      Untuk menghitung koefisien detreminasi atau hubungan pengaruh kedua variabel yaitu dengan menggunakan rumus r²
       =    (r)²
         =    (0,765)²
r        =    0, 585
Dari hasil analisis data tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa antara latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013 pengaruhnya masuk kategori cukup, karena hasil perhitungan r hitung sebesar 0,765 berada diantara 0,600 sampai dengan 0,800 dari tabel interprestasi nilai rho.
Selanjutnya untuk menghitung tingkat keeratan hubungan dan sekaligus untuk menguji hipotesis alternatif (Ha) yang telah diajukan, maka kembali data ini dianalisis dengan menggunakan alat uji berupa t-tes dengan rumus sebagai berikut :
 
t = 7, 167             
Dari hasil analisis dengan menggunakan uji t-test diperoleh nilai t-hitung sebesar 7, 167 dan nilai t-hitung ini akan diinterpretasi dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% untuk jumlah N = 18 didapatkan nilai t-tabel sebesar 0, 468 dan pada taraf kesalahan 1% didapatkan nilai t-tabel 0,590 maka t-hitung > t-tabel, berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian hipotesis altenatif (Ha) yang telah penulis ajukan bahwa : “ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan dalam menggiring bola pada permainan sepak bola siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013” diterima.

D.    Pembahasan
Dari hasil perhitungan uji statistik dengan menggunakan Korelasi Product Moment hasil perhitungan koefisien r sebesar = 0,765 hasil tersebut berada diantara 0,600 sampai dengan 0, 800 dalam kategori hubungan yang cukup. Dalam hal ini latihan lari 30 meter mempunyai korelasi yang cukup terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013, hal ini juga menunjukan bahwa kemampuan dalam menggiring bola sangat ditentukan oleh latihan lari 30 meter, disamping juga masih ada faktor-faktor lain seperti adanya dorongan dari dalam, barulah ditunjang oleh dorongan dari luar yaitu berupa latihan-latihan yang diberikan secara teratur baik oleh guru atau pelatih. Latihan lari 30 meter adalah modal dasar dalam permainan sepak bola khususnya dalam usaha peningkatan kecepatan menggiring bola.
Jadi setelah melihat hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa nilai t-hitung lebih besar jika dibandingkan dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% dan 1% yaitu masing-masing (7, 167 > 0,468>0, 590). Dengan demikian hipotesis nihil (Ho) yang penulis kemukakan terdahulu yang berbunyi “tidak ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013” ditolak, yang menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima.

 
BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut di atas, penulis mengemukakan simpulan sebagai berikut :
1.      Dari hasil perhitungan diperoleh persamaan linear yaitu Y = 1 + 1,333X yang berarti peningkatan perubahan latihan lari 30 meter satu satuan akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan keterampilan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013 sebesar = 1,333X
2.      Hasil perhitungan diperoleh koefisien korelasi (r) = 0, 765 berarti mempunyai hubungan keeratan kedua variabel hal ini dikarenakan nilai r mencapai 0, 765
3.      Koefisien determinasi diperoleh nilai r² = 0, 585 berarti latihan lari 30 meter mempunyai pengaruh terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013, hal ini menunjukan bahwa r² = 0, 585 merupakan kemampuan menggiring bola yang ditentukan oleh latihan lari 30 meter pada saat latihan tersebut diberikan, selebihnya ditentukan oleh faktor lain di luar penelitian ini.
4.      Parameter dari keterampilan menggiring bola merupakan hasil perbandingan antara harapan para peserta didik untuk menguasai teknik menggiring bola dengan baik dan mendapatkan disiplin ilmu atau kesuksesan dalam pelajaran. Bila tujuan peserta didik dengan pemberian latihan yang sesuai dengan keinginan yang diaharpkan, maka akan merasa puas dan sukses, sebaliknya bila keterampilan menggiring bola tidak sesuai dengan latihan yang dijalankan, maka peserta didik akan merasa tidak sukses atau berhasil
5.      Dengan demikian harapan peserta didik untuk mendapakan suatu latihan yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dicanangkan, maka pendidik atau guru berusaha menunjukan adanya keseriusan untuk meningkatkan latihan agar keinginan peserta didik tersebut dapat terwujudkan, sehingga sesuai dengan keinginan peserta didik, dengan latihan yang diberikannya. Ini berarti harapan untuk mendapatkan keterampilan menggiring bola dengan baik diharapkan dapat terealisasi, tentu dapat memberikan kesuksesan bagi peserta didik.
6.      Dari pembuktian hipotesis terbukti bahwa dengan demikian nilai t-hitung lebih besar jika dibandingkan dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% dan 1% yaitu masing-masing (7, 167 > 0,468>0, 590), maka dugaan hipotesis teruji kebenarnnya.

B.     Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan, maka penulis memberikan masukan terhadap SMP Negeri 11 Samarinda sebagai berikut :
1.      Hendaknya latihan lari 30 meter dapat dijadikan sebagai indikator dari beberapa bentuk latihan demi untuk meningkatkan kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola
2.      Diharapkan Pembina olahraga khususnya di SMP Negeri 11 Samarinda disarankan untuk menggunakan latihan lari 30 meter untuk meningkatkan kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola
3.      Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dalam penelitian yang relevan, agar hasil yang dicapai dalam penelitian ini, dapat dikembagkan untuk lebih mengembangkan disiplin ilmu keolahragaan, khususnya dalam menentukan bentuk-bentuk latihan yang sesuai dengan tuntutan dan pola gerak dalam permainan sepak bola.





                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar