PENGARUH
LATIHAN LARI 30 METER TERHADAP
KEMAMPUAN
MENGGIRING BOLA DALAM
PERMAINAN
SEPAK BOLA PADA SISWA
PUTRA KELAS VII SMP NEGERI 11
SAMARINDA
TAHUN AJARAN
2012/2013
![]() |
OLEH :
DANIEL GANDUR
NPM. 0811200300575
INSTITUT KEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN
GURU REPUBLIK INDONESIA
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PKO
KALIMANTAN
TIMUR
TAHUN 2012
PENGARUH LATIHAN LARI 30
METER TERHADAP
KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA DALAM
PERMAINAN SEPAK BOLA PADA
SISWA
PUTRA KELAS VII SMP NEGERI 11
SAMARINDA TAHUN AJARAN
2012/2013
DANIEL GANDUR
NPM: 08112001300575
Skripsi ini diajukan sebagai suatu persyaratan
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
pada
Fakultas Ilmu Pendidikan
Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK
INDONESIA
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2012
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Pengaruh
latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
Nama Mahasiswa :
Daniel Gandur
NPM : 08112001300575
Fakultas :
Ilmu Pendidikan
Program Studi :
Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Jenjang :
Strata I ( S1 )
|
|
|
HALAMAN PENGUJIAN
Skripsi ini telah
diuji dan dinyatakan lulus pada:
Hari : Jumaat
Tanggal : 07 Desember 2012
|
PENGUJI
|
TANDA TANGAN
|
|
1. Nama Penguji I : Drs. Wakidi, M.Pd
|
|
|
|
|
|
2. Nama Penguji II : Mursalim Lacci, S.Pd, M.Pd
|
|
|
|
|
|
3. Nama Penguji III : Drs. H. Arifin Idris, M.Si
|
|
|
|
Mengetahui,
Panitia
Ujian Skripsi
|
Ketua,
Drs. H. Suriyansyah Hage, M.Pd
NIDN. 1115036301
|
Sekertaris,
Drs. H. Poniman, M.Pd
NIDN. 1108087402
|
ABSTRAK
DANIEL
GANDUR. Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013,
dibawah bimbingan bapak Drs. Wakidi, M.Pd selaku dosen pembimbing I (satu) dan
bapak Mursalim Lacci, S.Pd, M.Pd selaku dosen pembimbing II (dua).
Adapun
yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah ada
pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam
permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun
ajaran 2012/2013, untuk mengetahui berapa besar pengaruh latihan lari 30 meter
terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra
kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
Dalam
penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda
tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 120 orang siswa, kemudian
penulis mengambil sampel dari populasi di atas sebesar 15 %, karena itu jumlah
sampel yang diambil adalah sebanyak 18 orang siswa putra.
Adapun
teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1.
Metode penelitian
lapangan experiment metode ini dilakukan
dengan cara melakukan latihan pada obyek
yang diteliti, yaitu pada siswa
putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda, dengan meneliti kegiatan siswa dalam
mengikuti latihan yang diberikan.
2.
Metode penelitian pustaka (Library Research) yaitu metode penelitian dengan cara meneliti
dari laporan-laporan dan bahan-bahan lainnya yang ada kaitannya dengan masalah
yang diteliti baik menjelaskan data
utama maupun data pendukung
Dari
hasil analisis data dengan menggunakan Koefisien Korelasi Product Moment untuk
mengetahui pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola
dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda
tahun ajaran 2012/2013, maka diperoleh nilai r sebesar 0, 765 yang berarti masuk
dalam kategori cukup, karena hasil perhitungan r hitung sebesar 0,765 berada
diantara 0,600 sampai dengan 0,800 dari tabel interprestasi nilai rho.
Sedangkan
hasil analisis data dengan menggunakan alat uji berupa t-tes untuk mengukur
pengaruh antara kedua variabel dan sekaligus untuk menguji Hipotesis yang telah
diajukan, maka diperoleh t-hitung sebesar 7, 167 dan nilai t-hitung ini akan
diinterprestasi dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% untuk jumlah N =
18 didapatkan nilai t-tabel sebesar 0, 468 dan pada taraf kesalahan 1% didapatkan nilai t-tabel 0,590
maka t-hitung > t-tabel, berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian
hipotesis altenatif (Ha) yang telah penulis ajukan bahwa : “ada pengaruh
latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak
bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012-2013”
diterima.
RIWAYAT HIDUP
A. DATA PRIBADI
1.
Nama
Penulis : Daniel Gandur
2.
Tempat/Tanggal
Lahir : Metang, 04 Januari 1990
3.
Jenis
Kelamin : Laki-Laki
4.
Agama
: Khatolik
5.
Pekerjaan
: Mahasiswa
6.
Alamat : Jl. KH.Wahid Hasyim Gg.Kampus
Biru RT.08
7.
Anak
yang ke : 5 (Lima) dari 5 bersaudara
8.
Riwayat
Pendidikan : SD Tamat tahun 2002
SMP
Tamat tahun 2005
SMA
Tamat tahun 2008
Masuk
ke IKIP PGRI Kaltim tahun 2008
B. DATA KELUARGA
9.
Nama
Istri : -
10.
Nama
Anak : -
C. DATA ORANG TUA
11.
Nama
Bapak : Yosef Jangu
Pekerjaan
: Bertani
12.
Nama
Ibu : Yuliana Wijung
Pekerjaan
: Bertani
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa karena berkat dan
rahmat - Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul ”Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013”
tepat pada waktunya.
Skripsi ini disusun sebagai suatu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan Ilmu Kepelatihan Olahraga
IKIP PGRI Kalimantan Timur.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima
kasih banyak kepada :
1.
Bapak
Rektor IKIP PGRI Kalimantan Timur dan Dekan/Kaprogdi Fakultas Ilmu pendidikan
Kepelatihan Olahraga IKIP PGRI Kalimantan Timur yang telah berkenan memberikan kesempatan
kepada penulis untuk menyelesaikan studi pada IKIP PGRI Kalimantan timur.
2.
Bapak Drs.Wakidi, M.Pd selaku dosen pembimbing I
(satu) dan bapak Mursalim Lacci, S.Pd, M.Pd selaku dosen pembimbing II (dua)
yang telah banyak membantu penulis dalam memberikan masukan serta bimbingan
selama proses penyelesaian skripsi ini.
3.
Kedua
orang tua tercinta ayahanda Yosef Jangu dan ibunda
Yuliana Wijung dan seluruh keluarga
atas doa dan bantuan moral serta materi selama perkuliahan hingga penyelesaaian
skripsi ini.
4.
Teman-teman
seperjuangan yang telah begitu banyak memberikan bantuan serta motivasi kepada
penulis selama ini sampai
terselesainya penyusunan skripsi ini.
5.
Berbagai
pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu yang telah banyak
memberikan bantuan tenaga, pemikiran dan pendapat yang berguna bagi penulis.
Semoga Tuhan yang Maha Esa melimpahkan rahmat-Nya
kepada semuanya atas segala
kemurahan dan ketulusan hatinya yang diberikan kepada penulis hingga
terselesainya skripsi ini. Akhirnya sebuah pepatah mengatakan “Tiada gading yang tak retak” artinya tiada sesuatu yang sempurna.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh untuk bisa dikatakan sempurna.
Oleh karena itu segala tegur sapa, kritik dan saran amat penulis perlukan demi
kesempurnaannya. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita
semua.
|
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................... i
HALAMAN
PENGUJI .................................................................... ii
HALAMAN
ENGESAHAN .................................................................... iii
ABSTRAK .................................................................... iv
RIWAYAT
HIDUP ……………………………………………. v
KATA PENGANTAR .................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................... vii
DAFTAR TABEL .................................................................... x
DAFTAR GAMBAR .................................................................... xi
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
........................................................ 1
B.
Rumusan Masalah ........................................................ 4
C.
Tujuan Penelitian
........................................................ 4
D.
Kegunaan
Penelitian ........................................................ 5
BAB II DASAR TEORI
A.
Kajian Teori
................................................................................ 6
1.
Latihan ................................................................................ 6
2.
Lari 30 meter.......................................................................... 19
3.
Menggiring Bola ................................................................... 25
B. Definisi Konsepsional ................................................................. 30
C. Hipotesis Penelitian ..................................................................... 31
BAB III METODE PENELITIAN
A. Definisi Operasional .................................................................. 33
B. Populasi dan Sampel ................................................................... 34
C. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. 36
D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 38
E. Teknik Analisis Data dan Pengujian
Hipotesis ........................... 40
BAB
IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian............................................ 43
B. Data hasil Penelitian .............................................................. 50
C. Analisis Data ............................................................................... 52
D. Pembahasan ................................................................................ 56
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 57
B. Saran ....................................................................................... 58
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Tubuh
Utama Halaman
1.
Jadwal Latihan Per Minggu .................................................................. 36
2.
Program Latihan Lari 30 Meter.............................................................. 37
3.
Norma Penilaian Penelitian .................................................................... 40
4.
Interpretasi Nilai Rho ............................................................................ 41
5.
Data Keadaan Ruangan SMP Negeri 11 ............................................... 47
6.
Data Keadaan Sarana dan Prasarana SMP Negeri 11 ........................... 48
7.
Data keadaan Siswa Berdasarkan Kelas dan Jenis
Kelamin SMP …….
Negeri
11 ............................................................................................... 50
8.
Data Kemampuan Menggiring Bola Pada siswa Putra
Kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda Tahun Pelajaran 2012/2013................................. 51
9.
Analisis Korelasi Product Moment Menggiring Bola
dalam Permainan
Sepak
Bola Pada Siswa putra Kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda…
tahun
ajaran 2012/2013 .......................................................................... 52
DAFTAR GAMBAR
No Tubuh
Utama Halaman
1.
Ayunan Kaki dan Tangan Saat Berlari .................................................. 23
2.
Otot-otot Tungkai Atas dan Bawah ...................................................... 24
3.
Menggiring Bola dengan Kaki Bagian Dalam ....................................... 29
4.
Menggiring Bola dengan Kura-kura Kaki Bagian
Atas ......................... 29
5.
Menggiring Bola dengan Kura-kura Kaki Bagian
Luar ......................... 30
6.
Lapangan Test Keterampilan Menggiring Bola ..................................... 39
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sepak bola adalah suatu permainan yang mengagumkan. Olahraga
yang tidak mengenal batas ras, usia, kekayaan, jenis kelamin atau agama. Sepak
bola adalah suatu olahraga yang dikenal setiap orang diseluruh dunia, tua dan
muda memainkan, menonton dan membaca tentang olahraga ini. Olahraga ini
memiliki ketertarikan dan gairah tersendiri.
Orang sering lupa bahwa di samping semua drama dan
keindahannya sepak bola adalah suatu permainan yang sederhana. Permainan ini
bertumpu pada beberapa teknik individu, yang bersatu untuk bekerja bersama
sebagai suatu tim. Meskipun kemampuan alami merupakan suatu bakat, para pemain
tidak dilahirkan dengan teknik dan pemahaman, semua ini adalah hal-hal yang
harus dipelajari. Sukses menuntut usaha yang sangat keras, kesabaran, pengorbanan
diri dan hasrat untuk memperlajari permainan ini dan mengembangkan diri. Hal
yang paling penting, sukses juga menuntut anda untuk mencintai apa yang anda lakukan.
Gol, gola, goal!.
Apa pun bahasa yang kita gunakan, permainan bola mampu memompa gejolak
perasaan, menyajikan drama mendalam dan teknik-teknik yang menakjubkan selama
90 menit atau lebih. Sepak bola adalah suatu permainan yang bisa dimainkan di
taman, di pantai, atau di stadion besar yang ditonton lewat televisi oleh
jutaan orang. Tetapi dimanapun orang bermain sepak bola, permainan ini membangkitkan
gejolak perasaan yang sangat hebat dan kesetiaan yang tinggi yang tidak ada
dalam permainan lain di dunia.
Tinjauan etimologi mengungkapkan bahwa olahraga adalah
kegiatan jasmani dan kegiatan fisik manusia yang berpengaruh terhadap
kepribadian dari pelakunya. Kegiatan fisik dalam olahraga adalah merupakan
kegiatan yang menuntut kesanggupan jasmani untuk menggunakan tubuhnya secara
keseluruhan.
Pembinaan yang mengembangkan olahraga merupakan bagian dari
upaya peningkatan kwalitas manusia Indonesia seutuhnya. Peningkatan kwalitas
jasmani dan rohani serta mental masyarakat, dengan harapan dapat digunakan
untuk membentuk watak kepribadiannya, disiplin dan sportivitas yang tinggi
serta meningkatkan prestasi olahraga yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan
nasional.
Pembinaan prestasi olahraga itu diarahkan untuk mendukung
upaya pencapaian prestasi setinggi-tingginya yang dapat meningkatkan dan
mengangkat harkat dan martabat serta citra dan kebanggaan nasional. Dalam
peningkatan prestasi ini tidak lepas dari pranan berbagai ilmu seperti
fisiologi, psikologi, nutrisi dan kesehatan olahraga.
Untuk meningkatkan prestasi olahraga menuntut adanya berbagai
usaha dan pembinaan olahraga. Berbagai cabang olahraga yang telah diciptakan
dan dikembangkan dalam masyarakat modern, sepak bola merupakan salah satu cabang
olahraga yang dikembangkan hingga keseluruh pelosok pedesaan. Pembinaan sepak
bola telah tersusun dengan berbagai metode latihan, namun prestasi maksimal
belum dapat terwujud. Fenomena ini dapat karena kurangnya kemampuan pemain
dalam memperagakan teknik-teknik bermain sepak bola secara tepat.
Berdasarkan penjelasan diatas, jelas bahwa usaha yang
dilakukan harus berdasarkan ilmu pengetahuan. Olahraga memang komplek
permasalah melibatkan banyak hal dalam penanganannya. Penanganan secara ilmiah
dan secara terpadu merupakan hal yang harus dilakukan bila ingin mendapatkan
prestasi yang tinggi. Untuk membuat seseorang atlit menjadi besar tidak hanya
mengandalkan latihan teknik saja perlu didukung fisik yang baik dan tidak kalah
pentingnya adalah psikologis. Pembinaan fisik dan mental mempunyai kedudukan
yang sangat penting dalam mencapai prestasi cabang olahraga.
Dalam usaha untuk menggali informasi yang aktual dibidang
olahraga termasuk yang berkaitan dengan kemampuan fisik, teknik serta mental
dalam setiap bidang olahraga khususnya bidang sepak bola perlu ditangani sejak
dini mungkin disamping adanya faktor
lain yang merupakan permasalahannya. Ini sepatutnya tidak dibiarkan berjalan berkesinambungan
tanpa kendali. Kondisi fisik harus dilatih secara kusus pada siswa dengan
teratur menurut rencana dan disiplin mencapai prestasi yang tinggi. Siswa yang
memiliki kondisi fisik yang baik tentu dengan mudah pula mempelajari teknik-teknik
dari setiap cabang olahraga yang ditekuninya.
Berdasarkan penjelasan diatas, jelas dengan latihan kondisi
fisik yang baik akan menurunkan tingkat resiko dalam permainan sepakbola serta
dapat meningkatkan kekuatan karena kekuatan merupakan salah satu faktor
penunjang dalam setiap latihan fisik. Dimana seluruh kegiatan dalam permainan
sepakbola hampir semuanya anggota tubuh beraksi dan bekerja. Hanya tangan yang
tak bisa digerakkan dengan sengaja untuk mendapatkan bola terkecuali kiper karena
adanya peraturan yang mengikat, tetapi unsur tubuh yang dominan gerak adalah
kaki.
Kecepatan menggiring bola dalam permainan sepakbola merupakan
salah satu unsur penting yang menentukan keberhasilan suatu team, dalam hal ini
seorang pemain sedapat mungkin menguasai keterampilan menggiring bola. Dalam
melakukan penggiringan bola pada setiap pemain selalu bergerak ke depan, ke
belakang, ke kanan dan ke kiri serta menyilang dengan maksud agar lawan sulit
mengetahui arah gerakan yang dikehendaki.
Adapun teknik menggiring bola menurut pendapat Dlive Gifford
:
Menggiring bola menuntut keseimbangan yang
baik, penguasaan yang luar biasa dan kepercayaan yang besar. Buatlah bola tetap
berada didepan anda dan didekat kaki anda tetapi jangan membuat bola berada di
bawah kaki anda karena anda bisa lari mendahului bola tersebut. Anda bisa
menggunakan punggung kaki anda, dan kaki bagian luar dan dalam untuk
menggerakan bola ke depan dan ke samping. (Clive Gifford 2002 : 27)
Berdasarkan latar
belakang yang telah dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian dengan judul: pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan
menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013.
B. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah yang telah dikemukakan di
atas maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :
Apakah ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring
bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11
Samarinda tahun ajaran 2012/2013.
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian
ini adalah :
1.
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh latihan
lari 30 meter terhadap kemampuan
menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas
VII SMP
Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
2.
Untuk mengetahui berapa besar pengaruh latihan
lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola
pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013
D. Kegunaan Penelitian
Adapun yang menjadi kegunaan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Sebagai bahan acuan untuk dapat mengetahui
metode latihan yang dapat diberikan dalam mengembangkan sepakbola khususnya
keterampilan menggirinhg bola.
2.
Sebagai bahan masukan dalam ilmu keolahragawan
dan mengembangkan prestasi secara maksimal khususnya pada cabang olahraga sepakbola.
3.
Sebagai salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan dan memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Ilmu
Pendidikan program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga IKIP PGRI Kalimantan
Timur.
|
DASAR TEORI
A. Kajian Teori
1. Latihan
a.
Pengertian Latihan
Latihan kecepatan pada prinsipnya adalah
memberikan beban kecepatan pada tubuh secara teratur, sistematik
berkesinambungan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kemampuan dalam
melakukan kerja. Berkaitan dengan latihan kecepatan Dangsina Moeloek dan
Arjatmo Tjokronegoro menyatakan bahwa :
“latihan kecepatan adalah suatu kegiatan fisik menurut cara dan aturan
yang mempunyai sasaran peningkatan efisiensi faal tubuh dan sebagai hasil akhir
adalah kesegaran jasmani dan peningkatan kecepatan”. Dangsina Moeloek dan
Arjatmo Tjokronegoro (1984 : 12)
Menurut Harsono : “latihan kecepatan merupakan usaha untuk meningkatkan kesegaran
jasmani dan kemampuan fungsional system tubuh sehingga mencapai prestasi yang
lebih baik”. Harsono (1988 : 153). Pendapat lain dikemukakan Andi Sihendro
bahwa : “latihan fisik adalah latihan yang ditunjukan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kondisi seseorang”. Andi Sihendro (1993 : 5). Latihan ini mencakup
semua komponen kondisi fisik antara lain kekuatan otot, daya tahan
kardiovaskuler, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan, power, kelentukan dan
lain-lain.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa, latihan kecepatan merupakan salah satu unsur latihan olahraga secara
menyeluruh, yaitu untuk meningkatkan kecepatan, prestasi olahraga serta
meningkatkan kesegaran jasmani. Dalam pelaksanaan latihan kecepatan dapat
ditekankan fakta salah satu komponen kondisi fisik tertentu misalnya, latihan
kelentukan atau latihan kelincahaan, maka latihan kecepatan harus ditekankan
pada peningkatan unsur-unsur kondisi kecepatan, kelentukan atau kelincahan.
Latihan yang dilakukan harus bersifat spesifik sesuai dengan karakteristik
komponen kondisi kecepatan yang dikembangkan.
b.
Prinsip-Prinsip Latihan
Prestasi
dalam olanhraga dapat dicapai dan ditingkatkan melalui latihan secara intensif.
Pelaksanaan latihan harus berpedoman pada prinsip-prinsip latihan yang benar.
Menurut Nosseck : “prinsip latihan merupakan garis pedoman yang hendaknya
dipergunakan dalam latihan yang terorganisir dengan baik”. (Nosseck 1982 : 14).
Agar tujuan latihan dapat dicapai secara optimal, hendaknya diciptakan
prinsip-prinsip latihan yang baik dan tepat. Menurut Hamid A. Hamidsyah Noer prinsip-prinsip
latihan dalam bidang olahraga meliputi : “(1). Latihan-latihan yang dilakukan
hendaknya diulang-ulang, (2). Latihan
yang diberikan harus cukup berat, (3). Latihan harus dilakukan secara teratur
dan, (5). Kemampuan prestasi”. (Hamid A. Hamidsyah Noer 996 : 8-11).
Untuk
lebih jelasnya prinsip-prinsip latihan tersebut dapat diuraikan secara singkat
sebagai berikut :
1)
Latihan harus diulang-ulang
Menguasai suatu teknik cabang olahraga
meningkatkan kemampuan fisik, harus dilakukan secara berulang-ulang.
Pengulangan gerakan hendaknya dilakukan dengan frekuensi sebanyak-banyaknya.
Hal ini dimaksudkan untuk mempermahir teknik yang dipelajari menuju otomatisasi
gerakan yang efektif dan efisien. Suharno HP menyatakan bahwa, : “untuk
mengoptimalisasikan penguasaan unsur gerakan fisik, teknik, taktik dan
keterampilan yang benar atlet harus melakukan latihan berulang-ulang dengan
frekuensi sebanyak-banyaknya secara kontinyu”. (Suharno HP 1993 : 22). Pengulangan
suatu gerakan yang dilakukan secara terus menerus maka akhirnya gerakan yang
dipelajari akan menjadi gerakan yang otomatis. Dengan gerakan yang otomatis
sehingga dapat melakukan suatu gerakan dengan cepat dengan menggunakan tenaga
yang sehemat mungkin.
2)
Latihan yang diberikan harus cukup berat
Latihan yang diberikan harus cukup berat
maksudnya adalah, latihan yang menekankan pada pembebanan latihan yang semakin
berat dan prinsip overload. Dengan
pemberian beban latihan yang cukup berat akan merangsang tubuh untuk dapat
beradaptasi dengan lingkungannya. Pemberian beban latihan yang cukup berat ini
harus berpedoman pada prinsip beban lebih (Overload
Principle), dimana melalui rangsangan (stimulasi) maksimal atau hampir
maksimal dengan latihan yang kian hari kian meningkat dan kian bertambah berat
maka perubahan-perubahan dalam tubuh akan dapat tercapai. Bila pengulangan
latihan yang konsisten dan dilakukan berulang kali bila tidak diikuti
penambahan beban, maka latihan tersebut tidak akan mencapai tujuan meskipun
jumlah pekerjaan yang dilakukan sama. Salah satu hal yang harus tetap
diperhatikan dalam peningkatan beban latihan harus tetap berada di atas ambsang
rangsang latihan.
3)
Latihan harus cukup meningkat
Perubahan kondisi tubuh setelah melakukan
latihan beberapa kali yaitu, organisme akan memiliki daya adaptasi terhadap
beban di atasnya. Jika beban latihan telah mencapai suatu kriteria tertentu,
tubuh akan makin terbiasa dengan beban tersebut, dan apabila beban tersebut
tidak dinaikan. Maka kemampuannya tidak bertambah. Oleh karena itu, beban latihan
harus ditambah atau dinaikan sedikit
demi sedikit untuk meningkatkan perkembangannya. Bila suatu latihan yang
diberikan terlalu cepatdengan memberikan
beban latihan yang ditingkatkan secara cepat pulamaka akan cepat menyebabkan
terjadinya kelainan-kelainan dalam tubuh.
Seperti dikemukakan Pate Rotella Clenaghan
bahwa, : “terlalu cepat tekanan peningkatan latihan dapat menyebabkan kelelahan
dan mengganggu penampilan”. (Pate Rotella Clenaghan 1993 : 318).
Pendapat diatas menunjukan bahwa, dalam
peningkatan beban latihan harus direncanakan dengan tepat dan disesuaikan dengan
kemampuan atlet. Beban latihan yang
terlalu berat dan diberikan dalam waktu yang cepat pula akan meningkatkan tubuh
mengalami kelelahan yang berlebihan. Hal ini disebabkan tubuh belum mampu untuk
menerima beban yang ditingkatkan secara cepat dan dapat menyebabkan
terjadinya gejala-gejala evertrining.
4)
Latihan dilakukan secara teratur
Latihan yang dilakukan secara teratur dan
kontinyu akan membawa tubuh untuk dapat segera menyesuaikan diri dengan alam
sekitarnya secara teratur pula. Latihan yang teratur dilakukan sekali dalam
seminggu bertujuan untuk memelihara kondisi fisik. Bila dilakukan sedikitnya
tiga kali dalam seminggu atau lebih akan dapat diharapkan peninkatan prestasi
yang cukup. Pelaksanaan latihan dapat dilakukan secara teratur, maka harus
didukung program latihan yang tepat.hal
ini karena masing-masing puncak prestasi seorang selalu beruba-ubah. Pate
Rotella Clenaghan menyatakan : “hanya sedikit olahragawan yang dapat
mempertahankan tingkat penampilan puncaknnya disusun sedemikian rupa sehingga
penampilan puncak dapat dicapai pada waktu yang diharapkan”. (Pate Rotella
Clenaghan 1993 : 3 : 9)
5)
Kemampuan berprestasi
Kemampuan berprestasi dipengaruhi oleh
banyak faktor. A. Hamidsyah Noer menyatakan : “kemampuan berprestasi disamping
ditentukan oleh factor latihan juga ditentukan faktor usia, jeis kelamin dan
kemauan”. (A. Hamidsyah Noer 1996 : 11).
Perlu disadari bahwa prestasi yang akan dicapai seseorang mempunyai batas-batas
kemampuan tertentu, tetapi batas-batas kemampuan itu sangat relative jika pada suatu saat setelah menjalani
latihan-latihan, atlet merasa tidak ada
kemajuan, hendaklah disadari bahwa
prestasi yang dicapai sudah hampir
mendekati puncak memang sangat lambat kemajuannya.
c.
Penyusunan Program Latihan
Penyusnan program
latihan merupakan salah satu unsur pokok dalam kepelatihan untuk mencapai
tujuan secara lebih efektif. Pelatih perlu membuat perencanaan program latihan
yang baik. Menurut Suharno HP : “program latihan merupakan pelaksanaan langsung
suatu rencana latihan untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu unsur yang harus
di perhatikan dengan cermat dalam menyusun program latihan adalah dosis
latihan”. (Suharno HP 1985;58). Harsono mengemukakan : “atlet harus berlatih
dengan beban keras yang ada di atas ambang rangsang kepekaannya (threshold sensitifity)”. (Harsono 1988 :
103). Pemberian dosis latihan harus direncanakan, disusun dan diprogramkan
dengan baik agar tujuan latihan dapat tercapai. Dartgsina Moeloek dan Arjatmo
Tjokronegoro menyatakan : “Pada pembuatan program latihan harus meliputi
faktor-faktor (1). Tipe latihan, (2). Intensitas latihan, (3).Frekuensi latihan
dan lama latihan, (4). Peningkatan”. (Dartgsina Moeloek dan Arjatmo
Tjokronegoro 1984 : 12-15) Agar tujuan latihan dapat dicapai dengan baik,
maka faktor-faktor di atas harus diperhatikan dalam penyusunan program latihan.
Berhasil dan tidaknya tujuan latihan dapat ditentukan oleh penyusunan program
latihan yang diterapkan oleh pelatih. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan
sebagai berikut :
1)
Tipe latihan
Tipe latihan akan memberikan efek pada
faal tubuh sesuai dengan hal yang telah dilakukan. Dalam memberikan latihan
harus diperhitungkan dengan cermat mengenai tipe dari unsur yang akan dikembangkan
kemampuan lari cepat, maka harus diperhatikan dengan cermat mengenai unsur
gerakan dan unsur kondisi fisik yang diperlukan dalam gerakan tersebut. Dengan
diketahui hal tersebut maka akan dapat ditentukan dengan tepat mengenai tipe
latihan yang bagaimana yang harus diterapkan dalam latihan.
2)
Intensitas
Menurut Suharno HP intensitas adalah : “takaran yang menunjukkan
kadar atau tingkatan pengeluaran energy atlet dalam aktivitas jasmani baik dalam
latihan maupun pertandingan”. (Suharno HP 1993 : 31). Intensitas latihan
menyatakan beratnya latihan dan merupakan faktor utama yang mempengaruhi efek
latihan terhadap faal tubuh. Makin berat latihan (sampai batas tertentu) makin
baik efek yang diperoleh. Intensitas latihan yang diberikan tidak boleh terlalu
tinggi atau terlalu rendah. Intensitas suatu latihan yang tidak memadai atau
terlalu rendah, maka pengaruh latihan yang ditimbulkan sangat kecil bahkan
tidak ada sama sekali. Sebaliknya intensitas latihan terlalu tinggi dapat
menimbulkan cedera.
Salah satu faktor yang berkaitan dengan
intensitas latihan adalah repetisi dan set. Suharno HP menyatakan repetisi
adalah : “Ulangan gerakan beberapa kali atlet harus melakukan gerakan setiap
giliran”. (Suharno HP 1993 : 32). Suatu keterampilan atau kondisi fisik akan
meningkat jika gerakan dalam latihan dilakukan secara berulang-ulang. Semakin
banyak ulangan gerakan dilakukan, maka akan diperoleh peningkatan kemampuan
atau keterampilan yang lebih baik. Sedangkan set menurut M. Sajoto adalah : “suatu
rangkaian gerakan dari suatu repetisi”. (M. Sajoto, 1995 : 34). Hal ini
menunjukkan bahwa, suatu gerakan harus diulang-ulang dan beberapa kali
rangkaian gerakan tersebut harus dilakukan. Semakin banyak frekuensi ulangan
gerakan yang dilakukan dalam suatu rangkaian gerakan, maka akan diperoleh
otomatisasi gerakan yang lebih baik.
3)
Frekuensi latihan dan lama latihan.
Frekuensi dan lama latihan merupakan dua hal
yang saling berkaitan dalam
pelaksanaan latihan. Frekuensi merupakan
jumlah beberapa kali latihan dilakukan setiap minggunya. Sedangkan lamanya
latihan yaitu lamanya waktu yang dilakukan dalam latihan sampai mendapatkan
pengaruh yang nyata. Kemampuan seseorang
atlet tidak dapat meningkat jika hanya melakukan latihan sekali atau dua kali
frekuensi latihan saja. Kemampuan seseorang atlet akan meningkat jika melakukan
latihan dengan frekuensi tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula.
Berkaitan dengan hal tersebut M. Sajoto
menyatakan : “Para pelatih dewasa ini umumnya setuju untuk menjalankan
latihan tiga kali seminggu, agar tidak terjadi kelelahan yang kronis. Adapun
lama latihan yang diperlukan adalah selama 6 minggu atau lebih”. (M. Sajoto 1995
: 35)
Latihan yang dilakukan 3 kali seminggu
secara teratur selama 6 minggu kemungkinan sudah menampakkan pengaruh yang
berarti terhadap peningkatan kemampuan kondisi fisik atau keterampilan yang
lebih baik.
4)
Peningkatan
Kemampuan seseorang akan meningkat jika
dalam pelaksanaan latihan bebanya ditingkatkan secara terus menerus. Proses
adaptasi fisik manusia terhadap ransangan berupa beban latihan berlangsung
dengan pelan, oleh karena itu peningkatan beban harus dilakukan secara
progresif dalam arti setahap demi setahap, agar tidak jadi cedera atau kelainan
pada tubuh. Peningkatan beban latihan harus dilakukan dengan segera setelah
terjadi peningkatan kemampuan dan atlet tersebut. Dengan peningkatan beban yang
teratur akan diperoleh kemajuan dengan pasti secara tepat.
d.
Latihan fisik
Kemampuan fisik
merupakan salah satu
faktor penting dalam
mencapai prestasi, seperti
kekuatan, kecepatan, kelincahan,
kelenturan, dan sebagainya. Pelaksanaan latihan
kepada atlet harus
benar dan tepat.
Benar dalam pengertian
menyangkut isi pengetahuan
atau ilmu yang
digunakan, sedangkan tetap
dalam arti perkenaan
dengan cara atau
bentuk latihan yang
dipergunakan untuk mencapai
pengetahuan atau ilmu
yang dianggap benar.
Bentuk-bentuk latihan
fisik terus menerus
mengalami perkembangan, akibatnya
terdapat beberapa bentuk latihan
fisik yang pelaksanaannya beraneka
ragam. Ini berarti
membuktikan bahwa usaha-usaha
penelitian dalam bentuk latihan
fisik telah banyak di lakukan, namun
masih ada saja permasalahan yang perlu di cari . Soekarman mengemukakan bahwa: “Kondisi fisik yang dapat
dicapai melalui latihan yang keras dan cara latihan tidak cukup dengan latihan
olahraga itu saja, tetapi harus di persiapkan secara khusus sesuai dengan
kebutuhan dan masing-masing cabang olahraga”. (Soekarman, 1987 : 53)
Bertitik tolak dari
pendapat tersebut di atas kondisi fisik itu atlit memegang peranan yang sangat
peting dalam program latihan kondisi fisik
harus di rencanakan secara baik
sistematis dengan tujuan untuk meningkatkan kesegaran dan jasmani dan
kesmpurnaan fungsional dari sistim tubuh sehingga dengan demikian mungkin
atlit untuk mencapai prestasi yang lebih
baik. Dengan kondisi fisik yang
baik maka akan ada peningkat di dalam kemampuan suatu cabang olahraga tersbut. Selanjutnya akan di uraikan pengaruh latihan kondisi fisik
terhadap komponen-komponen kondisi fisik atlit.
1)
Kecepatan
Dalam
berbagai cabang olahraga
kecepatan merupakan komponen
fisik yang ensensial. Kecepatan adalah
kemampuan untuk melakukan gerakan
sejenisnya secara berturut-turut dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya. Menurut Harsono, mengemukakan bahwa : “Kecepatan adalah
kemampuan untuk melakukan
gerakan-gerakan yang sejenisnya
secara berturut-turut dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya, atas kemampuan untuk
menempuh suatu jarak
dalam waktu sesingkat-singkatnya”. (Harsono 1998 : 216).
Dari
uraian diatas, dapat
dikatakan bahwa kecepatan
adalah kemampuan fisik
bergerak dalam waktu
yang sesingkat mungkin,
kecepatan bukan berarti
mengerakkan seluruh tubuh
dengan cepat akan
tetapi dapat pula
terbatas pada anggota
tubuh yang lain.
Kecepatan memegang
peranan yang sangat
penting dalam menunjang
prestasi seorang atlet.
Dalam kegiatan olahraga
ada tiga jenis kecepatan. Menurut Messak
diterjemahkan bebas oleh Harsono yaitu :
1.
Sprinting of
speed yaitu kemampuan
bergerak menuju kedepan
dalam waktu yang
singkat. Berhasilnya sprinting
of speed tergantung
dari kemampuan untuk
melakukan frekwensi pergantian
kaki sebanyak mungkin
dan setiap pergantian
kaki (langkah) akan menghasilkan jarak
yang sejauh mungkin.
2.
Reaction of
speed yaitu kemampuan
reaksi dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya setelah
menerima rangsangan.
3.
Speed of
movement adalah kemampuan
kecepatan kontraksi otot
terhadap suatu gerakan
yang tidak terputus (Harsono, 1988 : 56)
Kecepatan yang
juga sebagai salah
satu kemampuan dasar
yang telah dimiliki
oleh setiap orang, namun
intensitasnya berbeda dimana
dipengaruhi oleh latihan
yang dilakukan juga,
perbedaan seseorang dengan
orang lain dipengaruhi
oleh jenis otot
dimiliki, banyaknya jaringan
otot yang terlibat
dan ukuran dari
otot.
Dari gerakan
pada cabang olahraga sepakbola
khususnya pada teknik
menggiring bola nampak
bahwa, unsur kecepatan
memang memegang peranan
penting untuk mencapai
suatu sasaran, karena
membutuhkan kecepatan gerak
kedepan dan kontraksi
otot untuk penampilan
kerja maksimal.
2)
Kelincahan
Kelincahan asal
katanya lincah berarti
cekatan, tangkas dan
giat. Soekarman mendefenisikan kelincahan
yaitu : “kemampuan untuk
mengubah arah yang
sekoyong-koyongnya dalam kecepatan
tinggi”. (Soekarman, 1987 :
3) Harsono mengemukakan
bahwa : “kelincahan adalah
kemampuan untuk mengubah
arah dan posisi
tubuh dengan cepat
dan tepat pada
waktu sedang bergerak
tanpa hilang keseimbangan
dan kesadaran akan posisi tubuh”. (Harsono, 1988 : 172).
Sedangkan menurut
Nurhasan mengemukakan bahwa :
“kelincahan adalah kemampuan
gerak kesegala arah
dengan mudah dan cepat.
Orang yang mempunyai
kelincahan yang tinggi
memungkinkan orang itu bergerak kesegala
arah dengan cepat
dan mudah”. (Nurhasan. 1986 :
45).
Berdasarkan rumusan
dari teori oleh
para ahli diatas
dapat disimpulkan bahwa
kelincahan mengandung arti
kemampuan dan kesiapan
tubuh seseorang untuk
merubah arah dengan
cepat, dalam waktu
yang sesingkat mungkin
tanpa penggunaan dan
keseimbangan.
Dalam
permainan sepakbola kelincahan
merupakan hal yang
penting karena pemain
tersebut akan dengan
mudah menghindar dari
lawan pada saat menggiring bola
untuk melakukan passing.
Seseorang yang memiliki
tingkat kelincahan yang
tinggi akan dengan
mudah merubah arah
pada posisi yang
berbeda dalam kecepatan
yang tinggi. Kemampuan
merubah gerakan dengan
baik yang dimiliki
oleh seseorang pemain
merupakan kebanggaan tersendirinya
baginya. Karena tidak
semua pemain sepakbola
dapat mencapai prestasi
yang demikian sebagaimana
yang dikemukakan oleh
Arma Abdullah bahwa : “kecepatan reaksi
dan merubah arah
sangat diperlukan dalam
permainan sepakbola”. (Arma Abdullah, 1984 : 419).
Dari
uraian diatas, jelas bahwa kelincahan merupakan
unsure fisik yang
sangat penting dan sangat
besar manfaatnya dalam
meningkatkan prestasi olahraga. Abdul Adib
Rani mengemukakan tentang
manfaat kelincahan sebagai berikut :
a.
Koordinasi
gerakan-gerakan dalam olahraga
dengan baik.
b.
Gerakan-gerakan olahraga yang dilakukan adalah secara praktik
dengan ekonomis sehingga tidak cepat menimbulkan kelelahan.
c.
Menjaga keseimbangan dalam gerakan sehingga pelaksanaan
gerakan selanjutnya dapat dilakukan dengan sempurna.
d.
Bermanfaat untuk menguasai tehnik yang tinggi dalam cabang
olahraga yang dikutinya. (Abd Adib Rani,1992 : 43)
Dengan
demikian untuk mencapai
prestasi yang optimal
atlit perlu meningkatkan
kelincahanya. Agar atlit
dapat bergerak dengan
lincah khususnya pada
pergerakan menggiring bola
pada permainan sepakbola.
3)
Kelentukan
Kelentukan adalah
unsur fisik yang
penting dan hampir
semua cabang olahraga
terutama cabang olahraga
yang banyak memuat
gerak sendi-sendi seperti
dalam permainan sepakbola
khususnya menggiring bola.
Kelentukan asal
katanya lentuk berarti
berlekuk atau dilekukan (tidak kaku) lentur.
Abdul Adib Rani memberikan
defenisi kelentukan yaitu :
“suatu kemampuan seseorang
dalam melakukan gerakan
dengan ampflitudo yang
luas”.
(Abd Adib Rani, 1992
:45)
Apabila seseorang
mempunyai ruang gerak
yang luas dalam
sendi-sendinya serta memiliki
otot yang elastis
maka orang itu
memiliki fleksibilitas khususnya
otot-otot pada perut.
Otot yang kaku
tidak elastis biasanya
terbatas ruang gerak
sendi-sendinya. Jadi kalau
seseorang lama tidak
melakukan latihan maka
otot-ototnya berkurang. Dari
penguraian batasan kelentukan
diatas maka kelentukan
dapat dikembangkan melalui
proses latihan peregangan
otot dan latihan
memperluas gerak sendi.
Haesono mengemukakan bahwa : “kelentukan dapat
dikembangkan melalui latihan (1). Peregangan dinamis
(2). Peregangan statis
(3). Peregangan pasif (4). Peregangan kontrasi
relaksi”. (Harsosno, 1988 : 164)
Gerakan efisien
dalam berbagai kemampuan
memelukan tingkat kelentukan
yang tinggi. Meskipun
tiap kemampuan memerlukan
kelentukan yang berbeda-beda
tetapi diperlukan suatu
program pengembangan kelentukan
secara umum, termasuk
didalamnya peregangan kelompok
otot sendi.
Menurut harsono
mengemukakan bahwa perbaikan
dalam kelentukan akan
dapat :
1.
Mengurangi
kemungkinan cedera pada
otot dan sendi.
2.
Membantu
dalam mengembangkan kecepatan,
koordinasi dan kelincahan.
3.
Membantu
mengembangkan prestasi.
4.
Menghemat
pengeluaran tenaga pada
waktu melakukan gerakan-gerakan.
5.
Membantu
memperbaiki sikap tubuh. (Harsono, 1988 : 63)
Dengan
demikian adanya faktor-faktor
tersebut diatas yang
sangat penting bagi
atlit karena atlit
yang mempunyai kelentukan
yang baik, mempunyai
peluang yang lebih
besar dalam berprestasi
dibandingkan dengan atlit
yang tidak memiliki
kelentukan
2. Lari 30 meter
a.
Pengertian lari 30 meter
Istilah kecepatan lazimnya dipergunakan untuk menyatakan
kemampuan berpindahnya sebuah benda. Adapun pengertian lari sprint 30 meter
menurut Fred Mc Mane adalah : “seorang pelari harus memperoleh kecepatan tinggi
dalam waktu sesingkat mungkin untuk mencapai jarak 30 meter”. (Fred Mc Mane
1983 : 15)
Bidang olahraga sangat membutuhkan unsur
kemampuan dasar yaitu lari. Di dalam berbagai cabang olahraga, lari atau
kecepatan merupakan komponen fisik yang esensial, contohnya terhadap lari untuk
melakukan serangan baik dalam permainan sepak bola. Adapun pendapat lain
tentang lari 30 meter yaitu menurut Harsono didefinisikan sebagai : “kemampuan
untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu
yang sesingkat-singkatnya”. (Harsono 1988 : 216). Berdasarkan definisi yang
dikemukakan oleh Harsono ini, maka lari 30 meter dapat dikatakan sebagai
kemampuan organisme seseorang untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Lari 30 meter merupakan unsur gerak dasar yang berguna untuk mencapai prestasi
maksimal. Lari 30 meter diartikan sebagai waktu yang digunakan untuk menyatakan
suatu perpindahan sebuah benda. Hal ini ditegaskan oleh Jensen dkk. dalam
tinjauan biomekanikanya digambarkan sebagai berikut :
Keterangan :
V = Velocity
S = Speed
T = Timer
(Jensen dkk. 1981 : 97)
Berdasarkan
uraian di atas, lari 30 meter merupakan hasil perbandingan antara jarak yang
ditempuh dengan waktu yang dicapai. Jarak yang harus ditempuh diidentifikasikan
sebagai beban aktivitas, sedangkan besarnya tenaga yang dicurahkan menentukan
waktu yang ditempuh. Pemanfaatan tenaga dalam lari memegang peranan penting,
dapat pula dikatakan bahwa tingkat kecepatan lari ditentukan oleh seberapa
banyak curahan tenaga yang dilibatkan untuk aktivitas yang dijalankan.
Lari
bukan berarti menggerakan seluruh anggota tubuh dengan cepat, tetapi dapat pula
terbatas pada menggerakan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Pemanfaatan kecepatan lari dalam
keterampilan gerak berolahraga dapat dibedakan dalam beberapa jenis,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Pamo yaitu :
1)
Kecepatan lari (sprinting
speed) adalah kemampuan organisme atlit bergerak ke depan dengan kekuatan
dan kecepatan maksimal untuk mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
2)
Kecepatan reaksi (reaction
Speed) adalah kemampuan organisme atlit untuk mencapai hasil
sebaik-baiknya.
3)
Kecepatan bergerak (speed
of movement) adalah kemampuan seseorang atlet untuk bergerak secepat
mungkin dalam suatu gerakan yang tidak terputus. (Pamo 1992 : 116)
Ketiga
macam kecepatan diatas yang dikemukakan oleh Pamo selalu dipergunakan dalam
keterampilan berolahraga. Manfaat yang ditunjukkan yaitu :
1) Kecepatan
lari, merupakan salah satu macam keterampilan yang digunakan di dalam berbagai
cabang olahraga seperti atletik, sepak bola dan lain-lain. Di dalam
keterampilan lari, untuk melakukan serangan balik, unsur kecepatan merupakan
faktor yang paling menentukan. Oleh karena itu kecepatan merupakan potensi yang
perlu ditingkatkan dan dimiliki.
2) Kecepatan
reaksi, adalah perbedaan waktu antara aksi fisik dengan rangsangan yang dikirim
oleh sistem saraf dari otak. Semakin singkat waktu yang dicapai berarti semakin
tinggi pula waktu reaksinya. Keadaan ini menimbulkan presepsi bahwa kecepatan
reaksi akan mempengaruhi kecepatan bergerak. Setiap cabang olahraga
memanfaatkan unsur kecepatan reaksi dengan alasan seseorang atlit harus dapat
memberikan keputusan berupa tindakan seseorang mungkin atas kesepakatan yang
terjadi dalam waktu yang sama.
3) Kecepatan
bergerak, adalah kemampuan anggota-anggota tubuh tertentu untuk melakukan
aksinya dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Kecepatan bergerak dapat
dilihat ketika seseorang melakukan gerakan-gerakan sprint dalam lari jarak
pendek.
Adapun pendapat
lain yaitu menurut Ballesteros mengemukakan pandangan tentang lari 30 meter
adalah : “lompatan yang berturut-turut”. (Ballesteros 1979 : 14). Alasan dari
pada ini karena adanya sebuah fase dimana kedua kaki melayang. Siklus
keseluruhan dimulai dari saat dimana kaki mulai melangkah kemudian menyentuh
tanah dan sampai kemudian menyentuh tanah lagi, jadi di dalam gerakan berlari
terdiri dari tiga tahap yaitu :
1) Tahap
melangkah
Mata kaki dan lutut yang
melangkah diluruskan pada saat titik berat badan bergerak
di depan kaki yang menumpu
dan mendorong pinggul ke depan. Pada saat yang bersamaan, kaki yang lain
terangkat, yang disebut kaki bebas, ditekuk dan bergerak ke depan dan ke atas
membuat gerakan ke depan. Ekstensi maksimum dari kaki yang melangkah bersamaan
dengan mengangkat paha dari sebelah kiri, ekstensi tersebut ke depan sampai ke
jari-jari kaki. Kedua tangan mengayun dan memberi imbangan gerak terhadap kedua
kaki. Ketika ayunan lengan mencapai titik maksimal, bersamaan itu pula telah
terjadi gerak dorongan akhir, sehingga ayunan akan berakhir ketika siku pada
titik belakang. Lutut tungkai lainnya akan mencapai ketinggian maksimal di
depan. Lengan diayun sedikit menyilang di depan dada dengan membentuk sudut 90
derajat dengan kecepatan lari sebagaimana juga gerak pada posisi tubuh yang
hampir tegak tanpa membungkukkan ke depan atua ke belakang.
2) Tahap
pemulihan kembali
Sekali gerak melangkah itu
selesai, dimana sentuhan pada tanah yang dibuat oleh kaki selesai maka titik
pusat berat badan diproyeksikan dengan arah parabola. Pada tahap ini kecepatan
jadi hilang, kaki yang melangkah di angkat ke belakang, sedangkan kaki yang
lainnya ke depan dan ini terbentuk tarikan kaki ang aktif ketika kaki menyentuh
tanah. Dalam pada itu, kaki belakang membuat gerakan yang berulang-ulang dan
lengan berayun dengan arah yang berlawanan. Siklus ini dapat disebut sebagai
tahap relaksasi dalam melayang atau tahap pemulihan.
3) Support
Pada tahap support ini
waktu kontak dengan tanah mulai terjadi, atau “tahap penerimaan” pada saat mana
penurunan titik pusat berat badan terjadi (dalam hal ini kaki). Sebagian
telapak kaki menyentuh tanah terlebih dahulu barulah kemudian seluruh telapak
kaki menyentuh tanah dengan mengeper sehingga kaki betul-betul menginjak ke
tanah. Pada saat yang sama lutut sedikit dibengkokkan sebagai persiapan unutk
melangkah, sedangkan lutut yang lain ketika bergerak ke depan terus
dibengkokkan seiring dengan ayunan lengan ke depan.
|
|
Gambar 1 : Ayunan kaki
dan tangan ketika berlari
Sumber : Anggar Tombak 10
Sep 2011/23:4. Kawandnews.Sport.com
b. Komponen-komponen
dalam kecepatan lari
Diketahui
bersama bahwa, aktivitas apapun bentuknya selalu melibatakan sistem jaringan otak
untuk mengadakan kontraksi. Otot merupakan bagian tubuh yang mempengaruhi
penampilan seseoarang dalam penampilannya. Kecepatan lari sebagai salah satu
kemampuan gerak dasar yang telah dimiliki oleh setiap orang. Pada hakekatnya
setiap aktivitas yang memanfaatkan unsur kecepatan lari tergantung dari system
perototannya. Oleh sebab itu, Jansen. C. R. dan kawan-kawan mengungkapkan
pandangannya, setelah diterjemahkan bahwa : “perbedaan seseoarang dengan orang
lainnya dipengaruhi oleh jenis otot yang dimiliki, banyaknya jaringan otot yang
terlibat dan ukuran dari otot”. (Jansen. C. R. 1981 : 169)
Jenis
otot dapat dibedakan berdasarkan kajian motor unit, menurut Fox, dkk. bahwa :
“The muscle fiber within a given
motor unit may be either fast-twitch (FT) or slow-teach (ST) fibers, but not
both”. (Tinjauan Fox ini setelah diterjemahkan secara bebas mengungkapkan
bahwa di dalam jaringan otot terdapat sebuah motor unit kemungkinan memiliki
jenis otot cepat (fast twitch) atau
jaringan otot lambat (Slow twitch), tetapi
tidak memiliki keduanya). (Fox, dkk. 1989
: 128)
Antara
otot cepat dan otot lambat memiliki kemampuan yang berbeda, karena pada otot
yang cepat (FT) hanya mampu melakukan gerak dalam beberapa saat saja, sedangkan
pada otot lambat (ST) memiliki kemampuan melakukan aktivitas dalam waktu yang
lama. Tinjauan berikut tentang komponen-komponen yang mempengaruhi kecepatan
dikemukakan oleh Harsono bahwa kecepatan juga dipengaruhi oleh : “1) Kekuatan (Sterength), 2) Waktu reaksi (reaction time), dan 3) Kelentukan (flexsibility)” Harsono (1988 : 101)
Selain
pandangan-pandangan tentang faktor yang mempengaruhi di atas, Bompa mengungkapkan
pula pandangan dengan komponen yang mempengaruhi kecepatan, yaitu : “1) Keturunan
(heredity),2) Waktu reaksi (reaction time), 3) Kemampuan untuk
mengatasi tahanan (agility to overcome
external resistance) 4) Teknik (technique),
5) Konsentrasi dan semangat (concentration
and will power)” (Bompa, 1985 : 294)
Latihan lari 30
meter merupakan jarak yang ditempuh dengan lari cepat (sprint) untuk mencapai waktu yang sesingkat-singkatnya. Semakin
singkat waktu yang digunakan semakin baik pula kecepatannya. Lari 30 meter
merupakan bentuk lari sprint yang membutuhkan tenaga (power), daya ledak dan waktu reaksi (kecepatan reaksi) sebagai
pendukung terciptanya kecepatan yang tinggi.
3.
Menggiring
bola
a.
Pengertian menggiring bola
Menggiring bola merupakan salah
satu teknik dasar dalam permainan sepak bola yang harus dikuasai oleh setiap
pemain. Menggiring bola adalah gerakan dalam permainan sepak bola yang
mengandung unsur seni, karena adanya penggunaan beberapa bagian kaki yang
menendang atau menyentuh dengan cara menggulingkan bola ditanah sambil berlari.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ilyas Haddad dan Ismsail Tola sebagai berikut
: “Menggiring bola adalah bahwa bola dalam control sambil berlari, bola tetap
dalam penguasaan (bola berada didekad kaki) dan dalam penguasaan untuk
memainkan”. (Ilyas Haddad, 1991 : 50).
Jadi menggiring bola adalah cara
membawa bola dengan menggunakan kaki dengan tujuan agar bola yang akan
ditendang kegawang lawan akan lebih dekat. Menurut Adib Rani menjelaskan bahwa
: “menggiring bola adalah istilah sepak bola untuk lari dengan bola”. (Adib
Rani, 1992 : 27).
Jadi berdasarkan penjelasan di
atas dapat diartikan bawasanya pengertian menggiring bola adalah membawa bola
dengan berbagai teknik sentuhan bola untuk membuka daerah atau melewati lawan
sehingga pemain mendapat kesempatan untuk melakukan passing atau tembakan ke
gawang.
Dengan menguraikan pengertian
menggiring bola, maka jelas bahwa menggiring bola adalah salah satu teknik
dasar yang memegang peranan penting dalam permainan sepakbola.
Dengan demikian apabila setiap
pemain sudah memiliki teknik penguasaaan bola dengan baik dan benar sangatlah
menentukan keberhasilan suatu team atau kesebelasan. Apabila keterampilan
terebut dicapai dengan baik dengan sempurna dalam tempo yang singkat, maka
semua bentuk latihan yang pernah diberikan hendaknya diulang-ulang secara tekun
agar semakin mantap. Karena menggiring bola adalah keterampilan teknik yang
dilakukan dengan cara menggunakan berbagai gerakan kaki sambil berlari.
Untung Suharjo memberikan pendapat
sebagai berikut : “Salah satu tuntutan teknik yang harus dikuasai dalam
menggiring bola adalah lari sambil
menggiring bola”. (Untung Suharjo, 1984 : 34). Oleh karena itu untuk
meningkatkan keterampilan dalam bermain sepakbola, khususnya dalam menggiring
bola tentu harus latihan yang teratur dan sistematis dengan metode dan bentuk
latihan yang tepat.
Dalam hal ini, pemain harus selalu
berusaha membebaskan diri, melindungi bola bergerak maju melakukan gerakan
dasar dan tipuan dalam menggiring bola. Sehubungan dengan hal ini Yusup Baktiar
mengemukakan pendapat sebagai berikut : “semakin baik penguasaan bola dan
semakin mudah seseorang pemain dapat melepaskan dari suatu situasi yang gawat,
maka semakin memuaskan mutu permainan kesebelasan itu”. (Yusup Baktiar, 1988 :
11).
Jadi jelas bahwa menggiring bola
adalah suatu usaha untuk menguasai bola, atau untuk merebutnya kembali bila
sedang dikuasai oleh lawan. Dengan demikian apa yang dikehendaki oleh setiap
pemain untuk mencapai suatu prestasi yang maksimal akan menjadi kenyataan.
b.
Teknik menggiring bola
Dalam permainan sepak bola dikenal
dua cara teknik. Teknik dengan menggunakan bola dan teknik tanpa menggunakan
bola, jadi teknik bermain bola adalah semua gerakan-gerakan yang berguna dalam
permainan sepak bola.
Menggiring bola merupakan salah
satu teknik dalam bermain sepak bola, dimana hal ini sangat berguna dalam
situasi permainan tanpa menguasai teknik dasar seseorang tidak dapat bermain
dengan baik. Menurut M.F. Siregar mengatakan bahwa : “Pelaksanaan suatu
kegiatan secara efektif dan rasional yang memungkinkan tercapainya hasil-hasil
yang baik dalam pertandingan”. (M.F. Siregar, 1975 : 32)
Salah satu unsur yang sangat
penting untuk dikuasai oleh seorang pemain adalah menggiring bola. Tanpa
penguasaan teknik menggiring bola sukarlah bagi seorang pemain untuk bermain
dengan baik, karena teknik menggiring bola sangat berguna dalam situasi
permainan. Teknik menggiring bola dapat dimiliki atau dikuasai apabila
dipelajari dan dilatih dengan baik secra kontinyu.
Ilyas Haddad dan Ismail Tola
mengemukakan bermacam-macam teknik menggiring bola dalam permainan sepakbola
sebagai berikut: “1) Menggiring bola dengan kaki bagian dalam, 2) Menggiring
bola dengan kura-kura kaki bagian dalam, 3) Menggiring bola dengan kura-kura
bagian atas, 4) Menggirng bola dengan kura-kura bagian luar”. (Ilyas Haddad dan
Ismail Tola, 1991 : 51)
Untuk
mengetahui lebih lanjut, maka perlu diuraikan tentang empat teknik menggiring bola
atau teknik dasar menggirng bola.
1) Menggiring
bola dengan kaki sebelah dalam
Menggiring
bola dengan kaki sebelah dalam adalah menggiring dengan persentuhan antara bola
dengan kaki bagian sebelah dalam atau dengan kata lain bahwa membawa dengan
bagian sebelah dalam. Bagian kaki dalam baik sekali karena bagian kaki yang
menyentuh bola daerahnya luas. Namun gerakan ke depan sangat lambat akibat
posisi kaki tidak berjalan atau searah dengan gerakan kaki ke depan.
Untuk
menganalisis teknik pelaksanaanya menggiring bola pada umumnya yang dianalisis
adalah sikap dan posisi yang meliputi kaki tumpu, kaki sentuh dan badan adalah
sebagai berikut :
a)
Kaki tumpu diletakkan di samping bola yang sedang
mengelindingkan ke depan, berat badan pada kaki tumpu, pada saat bola disentuh
maka kakitumpu kembali melangkah ke depan.
b)
Kaki sentuh mulai terangkat pada saat kaki tumpu
menyentuh tanah langsung bola disentuh dengan bidang perkenaan pada kaki bagian
dalam, ujung kaki diputar kelur sehingga bagian kaki yang berhadapan dengan
bola.
c)
Badan tetap condong ke depan untuk mengimbangi
keseimbangan serta mempercepat proses gerakan ke depan.
Untuk lebih
jelasnya menggiring bola dengan menggunakan kaki bagian
dalam dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar
3 : Menggiring bola dengan kaki bagian dalam
Sumber : menggiring bola 10 Sep 2011 at
10.30. kawandnews.Sport.com
2)
Menggiring
bola dengan kura-kura
kaki bagian atas
Mengiring bola dengan
kura-kura kaki bagian
atas, tidak seluas mengiring bola
dengan kura-kura kaki
bagian lain yang
banyak dipergunakan dalam
permainan. Karena praktis
untuk memperoleh kecepatan
dalam mengiring bola
kedepan. Hal ini
disebabkan karena posisi
kaki bergerak ke depan
secepat mungkin.
Untuk lebih jelasnya
pelaksaan mengiring bola
dengan mengunakan kura-kura
kaki bagian atas
dapat dilihat pada
gambar berikut ini :
Gambar 4. Menggiring bola dengan
kura-kura kaki bagian atas
Sumber: menggiring bola 10 Sep 2011 at
10.30. kawandnews.Sport.com
3)
Menggiring
bola dengan kura-kura
kaki bagian luar
Menggiring bola dengan
kura-kura kaki bagian
luar pada dasarnya
mempunyai persamaan dengan
tehnik-tehnik yang lain.
Hanya disini bidang
perkenaannya dengan bola
lebih luas sehingga
memudahkan peraturan gerak
bola sesuai kehendak
pemain.
Cara menggiring bola
dengan kura-kura kaki
bagian luar mempunyai
tujuan yaitu dapat
menggerakan bola dengan
terarah kedepan dengan
kaki bergerak dengan
sikap untuk berlari
dan dapat memberi
bola dengan tiba-tiba
karena sikap dan
posisi duduk harus
sedemikian sudah selalu
siap untuk mengadakan
pasing kearah lawan.
Untuk lebih jelasnya
mengenai kaki dan
tehnik menggiring bola
dengan kura-kura kaki
bagian luar dapat
dilihat pada gambar
dibawah ini:

Gambar 5. Menggiring bola
dengan kura-kura kaki bagian luar
Sumber : menggiring bola 10 Sep 2011 at
10.30. kawandnews.Sport.com
B. Definisi
Konsepsional
Dari uraian
yang telah dikemukakan
terlebih dahulu berikut
ini akan diberikan
defenisi konsepsional tentang
masalah yang berkaitan
dengan penelitian
ini nanti
yaitu :
1.
Latihan lari 30 meter adalah kemampuan untuk melakukan
gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya pada jarak 30 meter dan merupakan bagian yang dibutuhkan
dalam permainan sepak bola.
2.
Keterampilan
menggiring bola dalam
permainan sepakbola adalah
tingkat kemampuan seseorang
siswa dalam mengembangkan
tehnik menggiring bola baik dengan menggunakan kaki bagian
dalam, bagian luar maupun dengan punggung kaki dengan adanya
latihan lari 30 meter dapat
meningkatkan kecepatan menggiring bola.
C. Hipotesis
Penelitian
Untuk mencari
hubungan antara gejala-gejala maka dirumuskanlah
suatu dugaan sementara
tentang hubungan antara
gejala yang satu dengan
gejala yang lain.
Dugaan itulah yang sering
disebut hipotesis. Hipotesis
sangat berperan dalam
satu penelitian karena
secara garis besar
hipotesis memberikan arah
dan membatasi masalah
yang akan diteliti
agar penelitian dapat
tehindar dari kekeliruan.
Jawaban sementara yang
perlu diuji kebenarannya
pada dasarnya hipotesis
dirumuskan dengan maksud
untuk mengambarkan antara
variable-variabel dalam penelitian. Menurut Winarno Surachmand
mengartikan hipotesis sebagai berikut:
Secara etimologi hipotesis berarti sesuatu yang masih
kuarng dari (hipo) sebuah pendapat
(thesis) dengan kata lain hipotesis
adalah sebuah kesimpulan, tetapi kesimpulan
ini belum final, masih
harus dibuktikan kebenarannya.
Hipotesis adalah suatu
jawaban, dugaan yang
dianggap besar kemungkinannya untuk
menjadi jawaban yang
benar. (Winarno Surachmad, 1984 : 28)
Hal ini sesuai
dengan pendapat Melly
G Tan yang dikutip oleh
Koentjaraningrat yang mengatakan
bahwa peranan hipotesis
dalam suatu penelitian adalah sebagai
berikut:
1.
Memberikan
tujuan yang tegas
bagi suatu penelitian
2.
Membantu
dalam penentuan arah
yang harus ditempuh
dalam pembatasan ruang
lingkup penelitian, dengan memilih
fakta-fakta yang relefan
dan fakta-fakta yang
menjadi pokok persoalan.
3.
Menghindari
suatu penelitian yang
terarah dan tidak
bertujuan serta menyimpulkan
data yang mungkin
ketika ada hubungannya
dengan masalah yang
akan diteliti. (Koentjaningrat,
1980 :36 – 37)
Berdasarkan kajian
teoritis dan kerangka
pemikiran tersebut dalam
penelitian dirumuskan hipotesis
seperti berikut :
1.
Hipotesis
alternatif (Ha) “ada pengaruh antara latihan
lari 30 meter terhadap
keterampilan menggiring bola
dalam permainan sepakbola
pada siswa putra kelas
VII SMP Negeri 11
Samarinda.
2.
Hipotesis nihil
(Ho) “tidak ada pengaruh
antara latihan lari 30 meter terhadap keterampilan
menggiring bola dalam permainan
sepak bola pada
siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda.
|
METODE
PENELITIAN
A.
Defenisi Operasional
Sebelum penulis defenisi
operasional tentang masalah yang diteliti, terlebih dahulu penulis kemukakan beberapa pengertian tentang
definisi operasional menurut Masri Singaribun yaitu sebagai berikut : “Definisi operasional adalah
unsur penelitian yang memberitahukan
bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Dengan kata lain
semacam petunjuk pelaksanaan ilmiah
yang amat membantu peneliti yang lain ingin
mengunakan variabel yang
sama”. (Masri Singaribun, 1989 :
46)
Sedangkan
menurut Koentjaraningrat,
mengatakan pendapat tetang
definisi operasional adalah
sebagai berikut : “tidak lain dari
pada mengubah konse-konsep
yang berkonstruk itu
dengan kata-kata yang
menggambarkan perilaku atau
gejala yang diamati, dapat diuji
dan ditentukan kebenarannya
oleh orang lain”. (Koentjaraningrat, 1980 : 23)
Berdasarkan beberapa
definisi operasional yang telah disebutkan diatas dan di penelitian ini juga
meliputi dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel
bebas adalah latihan lari 30 meter dan variabel terikat adalah kemampuan
menggiring bola. Kedua variabel tersebut dapat dioperasionalkan sebagai berikut
:
1.
|
a.
Lari dengan sangat cepat
b.
Lari dengan cepat
c.
Lari dengan cukup cepat
d.
Lari dengan cukup
e.
Lari dengan kurang cepat
2.
Kemampuan menggiring bola merupakan perwujudan dari kualitas
koordinasi dan kontrol
pada bagian tubuh
yang terlibat dalam
gerakan, serta salah
satu tehnik dasar
dalam permainan sepakbola
yang harus dikuasai
oleh setiap pemain
dalam menggiring bola.
Kemampuan menggiring bola
dalam penelitian ini
merupakan variabel terikat
dengan diberi simbol Y, dengan
indikator-indikator sebagai berikut :
a.
Menggiring bola dengan sangat baik
b.
Menggiring bola dengan baik
c.
Menggiring bola dengan cukup baik
d.
Menggiring bola dengan cukup
e.
Menggiring bola dengan kurang baik
B. Populasi
dan Sampel
1. Populasi
Populasi
adalah sejumlah objek yang akan diteliti dalam suatu penelitian dalam suatu
wilayah tertentu yang diteliti. Menurut
Sutrisno Hadi populasi
adalah : “seluruh obyek yang
dimaksud untuk diteliti,
populasi dibatasi oleh sejumlah
subyek atau individu
yang paling sedikit mempunyai sifat yang
sama”. (Sutrino Hadi, 1984 : 220)
Pendapat yang lain menurut Marsi
Singaribun dan Sofyan
Efendi mengartikan populasi
sebagai berikut : “populasi atau
universe ialah jumlah
keseluruhan dari unit analisa yang
ciri-cirinya akan diduga”. (Marsi Singaribun dan
Sofyan Efendi, 1985 : 108)
Berdasarkan
uraian diatas populasi
penelitian yang digunakan
dalam penilitian ini sesuai dengan judul yang diajukan penulis yaitu
seluruh siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda
tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 120 orang siswa.
2. Sampel
Sampel
adalah merupakan bagian dari populasi yang diteliti. Adapun tujuan pengambilan
sampel adalah untuk memperoleh keterangan mengenai obyeknya, dengan jalan
mengambil sebagian saja dari populasi sehingga penelitian dapat dilakukan lebih
efektif dan efisien.
Menurut
Sutrisno Hadi, dijelaskan maksud pengambilan sampel yaitu sebagai berikut :
Di
dalam banyak hal seorang penyelidik tidak mampu atau tidak merasa perlu
menyelidiki semua peristiwa atau kasus melainkan sebagian saja, penyelidikan
semacam inilah yang kita kenal dengan penyelidikan sampel atau sampling studi
di lapangan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa jika dipandang tidak mungkin atau
tidak praktis menyelidiki seluruh objek atau kasus (populasi), maka diambil
contoh atau sampel secukupnya dan representatif dari seluruh populasi atau
kasus”. (Sutrisno Hadi, 1988 : 23).
Sehubungan
dengan pendapat di atas maka dalam
penelitian ini, penulis mengambil sampel dari populasi sebesar 15 %, karena itu
jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 18 orang siswa putra.
C. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian
ini dilakukan di SMP Negeri 11 Samarinda pada bulan Agustus sampai September 2012
selama 16 kali pertemuan
Adapun
Jadwal Latihan per Minggu adalah sebagai berikut :
Tabel
1 : Jadwal latihan per minggu
|
Hari
|
Jam
|
Tempat
|
|
Selasa
Sabtu
|
16.00
– 17.00
16.00
– 17.00
|
Lapangan sepak bola
SMP
Negeri 11
Samarinda
|
Sumber
: data proses penelitian
Adapun alokasi penggunaan waktu
dalam satu kali
pertemuan dirinci sebagai berikut
:
1.
Latihan
pemanasan
Sebelum melakukan
latihan inti para
peserta harus diberikan pemanasan (warming up) kurang
lebih 10 menit, kemudian
diberikan peregangan (strectihing)
sebanyak-banyaknya sehingga akan
memperoleh manfaat sebagai
berikut :
a.
Mengurangi ketegangan otot
dan tubuh lebih ringan
b.
Membantu
koordinasi dengan memberikan
kebebasan dan kemudahan
bergerak
c.
Meningkatkan
rentang gerak persendian
d.
Mencegah
terjadinya cedera seperti
problem pada otot
e.
Memperlancar
sirkulasi
2.
Latihan inti
Setelah melakukan pemanasan, selanjutnya memasuki
latihan inti sesuai dengan
program latihan yaitu mengadakan
latihan lari 30 meter selama 40
menit dilanjutkan dengan bermain sepak bola 40 menit.
3.
Latihan
pendinginan
Setelah latihan
inti dilakukan kemudian
diahiri dengan latihan
pendinginan yang mana
mempunyai tujuan untuk
menurunkan suhu badan
atau pengaruh rangsangan
pada sistem otot
akibat latihan dan untuk
mencegah terjadinya
pengenangan darah. Latihan
ini dilakukan kurang
lebih 10 menit.
Adapun materi program
latihan lari 30 meter untuk 2 (dua)
kali dilakukan setiap
minggu selama 16 (enam
belas) kali pertemuan adalah sebagai berikut :
Tabel 2 : Program
Latihan lari 30 Meter
|
Xperimen
|
Kegiatan
Experiment
|
Set
|
Repetisi
|
Interval
Dalam Repetisi
|
|
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
|
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
30
meter
|
3
3
3
3
5
5
5
5
10
10
10
12
12
12
15
15
|
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
|
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
1
menit
|
Sumber : materi
penelitian
D. Tehnik
Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data
penulis menggunakan beberapa cara yaitu : metode penelitian lapangan experiment metode ini
dilakukan dengan cara melakukan
latihan pada obyek yang
diteliti, yaitu pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda,
dengan meneliti kegiatan siswa dalam mengikuti latihan yang diberikan.
Metode Penelitian
Pustaka (Library Research) yaitu
metode penelitian dengan cara meneliti dari laporan-laporan dan bahan-bahan
lainnya yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti baik menjelaskan
data utama maupun data
pendukung.
1.
Alat dan fasilitas.
Alat dan
fasilitas yang digunakan
dalam pelaksaan tes-tes ini,
perlu disiapkan karena masalah
alat dan fasilitas pelaksaan dan
pelaksanaan tes merupakan penentu
tingkat validitas data yang digunakan
atau diproleh.
Adapun alat
atau fasilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.
Alat
1)
Bola
2)
Tiang
3)
Stop Watch
4)
Pluit
5)
Formulir
test dan alat
tulis
6)
Kamera (alat
dokumentasi)
7)
Meteran
b.
Fasilitas
Lapangan bola
c.
Pelaksanaan penelitian
Test keterampilan
menggiring bola
1)
Tujuan : Untuk mengetahui kemampuan dari sampel tentang
keterampilan menggiring bola
2)
Pelaksanaan test
a) Teste berdiri
dibelakang bola menghadap kearah
yang harus ditempuh
dan bola berada
dibelakang garis start.
b)
Setelah teste siap, maka teste memberi aba-aba “mulai”
teste segera menggiring bola melewati
antara tongkat-tongkat yang dipasang
harus dilewati disebelah rintangan
yang berlawanan dengan lewatnya
menggiring bola. Prosedur pelaksanaan
test dapat dilihat
pada gambar berikut :
Lapangan tes menggiring bola :
Gambar 7. Lapangan
test keterampilan menggiring bola
Sumber : Nur Ichsan Halim
(1991 : 121)
c)
test
dilakukan sebanyak 2 (dua)
kali ulangan, kemudian dicatat dan
diurutkan sesuai urutan
yang dihasilkan waktu
tercepat. Waktu yang tercepat
diberi skor tertinggi 5 dan terendah 1
Adapun tabel norma penilaian dalam pelitian ini adalah
sebagai berikut :
Tabel 3 : Norma Penilaian Penelitian
|
No
|
Nama Siswa
|
Waktu Tempuh
|
Skor
|
Predikat
|
|
1
|
|
1-5 detik
|
5
|
Sangat
cepat
|
|
2
|
|
6-10 detik
|
4
|
Cepat
|
|
3
|
|
11-15 detik
|
3
|
Cukup
cepat
|
|
4
|
|
16-20 detik
|
2
|
Cukup
|
|
5
|
|
21-25 detik
|
1
|
Kurang
cepat
|
Sumber : Masri
Singarimbun dan Sofyan Effendi, 1998 : 70
3)
Penilaian : hasil
yang dicatat adalah waktu yang dicapai teste, menggiring bola
dari start sampai
finis, sesuai ketentuan jalur yang
berlaku.
E. Tehnik
Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
Analisis data bertujuan agar
data yang dipeoleh dapat diuji
kebenarannya serta untuk mengetahui ada
tidaknya hubungan antara
latihan lari 30 meter terhadap keterampilan menggiring bola. Maka
tehnik analisis data
yang diajukan dalam penelitian
ini adalah regresi
linear sederhana sebagai
berikut :
Y = a + bx (j. Supranto,
2007 : 120)
b = 
a = 
Dimana :
Y = Tehnik
menggiring bola
X = Latihan
lari 30 meter
Untuk mengetahui hubungan
kedua variabel dengan
rumus
dimana :
rxy
= Koefisien
korelasi antara variabel X dan variabel Y
X = Latihan lari 30 meter
Y
= Kemampuan menggiring bola
n
= Banyaknya sampel yang diteliti
∑
= Jumlah
Sebagai acuan
interprestasi dan korelasi tersebut diatas, menurut ukuran yang konservatif
oleh Sutrisno Hadi berpendapat sebagai berikut :
Tabel 4 : Interprestasi
Nilai Rho
|
Interval Korelasi
|
|
Kategori
|
|
Anatar
0,800 s.d. 1,000
Antara
0,600 s.d. 0,800
Antara
0,400 s.d. 0,600
Antara
0,200 s.d. 0,400
Antara
0,000 s.d. 0,200
|
Tinggi
Cukup
Agak
Rendah
Rendah
Sangat Rendah (tidak berkorelasi)
|
5
4
3
2
1
|
(Sutrisno Hadi, 1997 : 275)
Kriteria
:
Jika
r ≤ - 1, maka terdapat
pengaruh yang tidak
searah antara latihan lari 30
meter dengan kemampuan menggiring bola.
Jika
r ≥ +1, maka terdapat pengaruh yang
searah antara latihan
lari 30 meter dengan kemampuan menggiring
bola.
Jika
r = 0, maka tidak ada
pengaruh antara latihan
lari 30 meter dengan kemampuan
menggiring bola.
Untuk
menguji tingkat keeratan pengaruh dan sekaligus untuk membuktikan hipotesis
yang telah diajukan, maka kembali penulis mengujinya dengan menggunakan rumus
t-test sebagai berikut :
Dimana :
r
=
artinya koefisien
korelasi yaitu untuk mengetahui pengaruh kedua variabel
r² = artinya koefisien
determinasi yaitu untuk
mengetahui pengaruh variabel X terhadap variabel Y
N = jumlah
sampel
Hipotesis
:
Jika :
t hitung lebih besar t tabel
maka hipotesis yang
diajukan diterima sedangkan.
Jika
: t tabel
lebih besar dari t hitung
maka hipotesis yang
diajukan ditolak.
|
HASIL
PENELITIAN
A.
Gambaran
Umum Lokasi Penelitian
Sebelum
penulis menguraikan data-data yang berhubungan dengan permasalahan dalam
penelitian ini, terlebih dahulu penulis sampaikan gambaran umum dari obyek
penelitian, yakni data-data yang berhubungan dengan keberadaan SMP Negeri 11
Samarinda tahun pelajaran 2012/2013.
1. Sejarah berdirinya.
SMP Negeri 11 Samarinda adalah salah satu sekolah menengah
pertama yang berlokasi dijalan Perjuangan
7 Rt.01 No. 55 Kel. Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda Utara Samarinda Kalimantan Timur kode pos 75119
SMP Negeri 11 Samarinda didirikan berdasarkan SK Kepala
Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Timur
tanggal 22 Nopember 1985. Sejak tahun pelajaran 1985/1986 SMP Negeri 11 Samarinda telah tercatat dengan status terdaftar
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Departemen Pendidikan Nasional
Propinsi Kalimantan Timur Nomor : 594/O/1985 Tanggal 22 Nopember 1985 tentang
jenjang Akreditas bagi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri dengan statistik
sekolah (NI) Nomor : 30401018 dan Nomor Sekolah (NPSN 30.2.16.050012).
2. Kelengkapan administrasi.
Berikut ini merupakan rincian umum tugas dan tanggung jawab
pengelola SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013
a.
Fungsi dan tugas Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam:
1) Menyusun
perencanaan
2) Membuat
program kegiatan
3) Pengorganisasian
4) Ketenangan
instafling
5) Pengarahan
6) Pengkoordinasian
7) Pengawasan
8) Penilaian
9) Identifikasi
dan pengumpulan
10) Penyusunan
laporan
b.
Fungsi dan tugas wali kelas
Wali
kelas sebagai pembantu kepala sekolah dalam:
1)
Mengelola kelas dan administrasi kelas
2)
Pembuatan statistik bulanan siswa
3)
Pengisian daftar nilai siswa (lengger)
4)
Pengisian buku laporan pendidikan (Raport)
5)
Catatan khusus siswa
6)
Pencatatan mutasi siswa
7)
Pembagian buku laporan pendidikan (Raport)
8)
Menjadi tanggung jawab utama atas kebersihan kelas
c.
Administrasi kurikulum /pengajaran.
Di
SMP Negeri 11 Samarinda bagian administrasi kurikulum pengajar dikordinasikan
oleh bapak Satjan Sitohang, S.Pd, M.Pd. Adapun program urutan kurikulum antara
lain :
1) Menyusun
program pengajaran
2) Menyusun
pembagian tugas guru
3) Menyusun
jadwal pelajaran
4) Menyusun
jadwal evaluasi belajar
5) Menyusun
kriteria dan persyaratan naik/tidak naik kelas/lulus
6) Menyusun
pelaksanaan US/UN
7) Menyusun
jadwal penerimaan Rapor dan ijasah
8) Supervisi
dan evaluasi KBM
9) Mengkoordinasikan
dan mengarahkan penyusunan program suatu pelajaran
10) Menyediakan
daftar buku acara guru dan siswa
11) Menyusun
laporan pelaksanaan pengajaran secara berkala
d.
Administrasi kesiswaan.
Bagian
urusan kesiswaan di SMP Negeri 11 Samarinda dikoordinasikan oleh bapak
Mujiayana,S.Pd.
Adapun
program urusan kesiswaan antara lain :
1)
Menyusun program pembinaan kesiswaan/OSIS
2)
Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan pengendalian
siswa/OSIS dalam rangka menegakkan kedisiplinan dan tata tertib sekolah Membina
dan melaksanakan koordinasi 10 K yaitu :
a)
Keagamaan,
b)
Kebersihan,
c)
Ketertiban,
d)
Keindahan,
e)
Kekeluargaan,
f)
Kerindangan,
g)
Kemandirian
h)
Keteladanan,
i)
Kejujuran dan
j)
Ketaqwaan
3)
Memberikan pengarahan dalam pemilihan pengurus OSIS
4)
Melakukan pembinaan pengurus OSIS dalam berorganisasi
5)
Menyusun program dan jadwal pembinaan siswa secara
berkala dan insidentil
6)
Melaksanakan pemilihan calon siswa teladan/bea siswa
7)
Mengadakan pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam
kegiatan di luar sekolah
8)
Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan kesiswaan secara
berkala
e.
Administrasi kepegawaian.
Administrasi
kepegawaian di SMP Negeri 11 Samarinda dilaksanakan oleh bagian tata usaha.
Administrasi
kepegawaian sekolah meliputi :
1) Penyusunan
program kerja tata usaha
2) Penyusunan
keuangan sekolah
3) Pengurusan
administrasi ketenagaan dan siswa
4) Pembinaan
dan pengembangan karier pegawai tata usaha
5) Penyusunan
perlengkapan administrasi dan pengarsipan sekolah
6) Penyusunan
dan penyajian data statistik sekolah
7) Mengkoordinasikan
dan melaksanakan 10 K
8) Penyusunan
laporan kegiatan ketatausahaan secara berkala.
f.
Administrasi Perlengkapan / Sarana prasarana.
Urusan perlengkapan /sarana dan prasarana antara
lain : pengadaan pemeliharaan /perawatan preventif gedung, ruang belajar dan
perlengkapan (meubeler) serta penataan dan penggunaan barang inventaris sekolah
seperti : alat-alat kantor dan bahan laboratorium, buku perpustakaan, media
pendidikan, dan lain-lain
Adpun
tugas dan tanggung jawab dari bagian administrasi perlengkapan /sarana dan
prasarana meliputi :
1) Merencanakan
kebutuhan sarana prasarana penunjang KBM
2) Merencanakan
program pengadaan sarana dan prasarana
3) Mengiventarisasikan
dan mengatur pemanfaatan sarana dan prasarana
4) Mengelola
perawatan, perbaikan dan pengembangan sarana dan prasarana
5) Menyusun
pembukuan dan laporan secara berkala.
Adapun laporan keadaan
sarana dan prasarana di SMP Negeri 11 Samarinda periode 2012/2013 antara lain :
1. Keadaan
Ruang
Tabel 5 : Data keadaan ruangan SMP Negeri 11
|
No
|
Jenis Ruang
|
Jumlah
|
Luas m2
|
Jumlah
|
Ket.
|
||
|
Baik
|
Sedang
|
Rusak
|
|||||
|
1
|
R.Kelas
|
15
|
63
|
9
|
6
|
|
|
|
2
|
R Perpustakaan
|
1
|
135
|
1
|
|
|
|
|
3
|
R.Ketrampilan
|
1
|
117
|
1
|
|
|
|
|
4
|
R.Kepala Sekolah
|
1
|
24
|
1
|
|
|
|
|
5
|
R,Wakil Kepsek
|
1
|
24
|
1
|
|
|
|
|
6
|
R.Guru
|
1
|
90
|
1
|
|
|
|
|
7
|
R.Tata Usaha
|
1
|
90
|
1
|
|
|
|
|
8
|
R.Ganti
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
9
|
R.BK
|
1
|
14
|
1
|
|
|
|
|
10
|
R.Ibadah
|
1
|
100
|
1
|
|
|
|
|
11
|
R.Aula/Serbaguna
|
1
|
180
|
1
|
|
|
|
|
12
|
R.UKS
|
1
|
20
|
1
|
|
|
|
|
13
|
R.Pramuka
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
14
|
R.Media
|
1
|
63
|
1
|
|
|
|
|
15
|
R.Osis
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
16
|
R.Kantin
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
17
|
R.Kopersai
|
1
|
12
|
1
|
|
|
|
|
18
|
R.Sirkulasi
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
19
|
R.Gudang
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
20
|
R.Klinik
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
21
|
Lab. IPA
|
1
|
117
|
1
|
|
|
|
|
22
|
Lab Komputer
|
1
|
63
|
1
|
|
|
|
|
23
|
Pos Keamanan
|
1
|
4
|
1
|
|
|
|
|
24
|
Kamar Kecil Guru
|
2
|
22,5
|
2
|
|
|
|
|
25
|
Kamar Kecil Siswa
|
6
|
90
|
3
|
3
|
|
|
Sumber
: Bagian Sarana dan prasarana SMP Negeri 11 Samarinda
2. Keadaan
Sarana dan Prasaran
Tabel 6 : Data keadaan sarana dan
prasarana SMP Negeri 11
|
No
|
Jenis
Sarana
|
Jumlah
|
Total
|
Ket
|
||
|
|
|
Baik
|
Sedang
|
Rusak
|
|
|
|
1
|
Meja Siswa
|
425
|
150
|
25
|
600
|
|
|
2
|
Kursi Siswa
|
425
|
150
|
25
|
600
|
|
|
3
|
Meja Guru
|
33
|
|
|
33
|
|
|
4
|
Kursi Guru
|
33
|
|
|
33
|
|
|
5
|
Meja Lain
|
1
|
|
|
1
|
|
|
6
|
Meja Tamu
|
1
|
|
|
1
|
|
|
7
|
Lemari
|
11
|
4
|
2
|
17
|
|
|
8
|
Kursi Lain
|
25
|
|
2
|
27
|
|
|
9
|
Kursi Istirahat Siswa
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
10
|
Computer
|
6
|
|
|
6
|
|
|
11
|
LCD
|
1
|
|
|
1
|
|
|
12
|
Laptop
|
3
|
|
|
3
|
|
|
13
|
T
|
1
|
|
|
1
|
|
|
14
|
Rak
|
6
|
|
|
6
|
|
|
15
|
Papan Tulis
|
15
|
|
|
15
|
|
|
16
|
Papan Data
|
5
|
|
|
5
|
|
|
17
|
Papan Pengumuman
|
2
|
|
|
2
|
|
|
18
|
Jenset
|
1
|
|
|
1
|
|
Sumber
: bagian sarana dan prasarana SMP Negeri 11 Samarinda
g.
Administrasi Humas
Urusan
hubungan masyarakat dalam membantu kepala sekolah dalam,
1) Mengatur,
membina dan menyelengarakan hubungan sekolah dengan orangtua/wali siswa,
POMG/BPPP, dan lembaga/instansi terkait
2) Menyusun
laporan hubungan masyarakat secara berkala
h.
Administrasi Guru
Tugas
dan tanggung jawab guru kepada kepala sekolah dalam:
1) Membuat
perangkat program pengajaran
a)
Rincian hari belajar efektif dan tidak efektif
b)
Rincian minggu efektif
c)
Silabus pelajaran
d)
Program semester
e)
Rencana program pembelajaran (RPP)
f)
Program mingguan
g)
Alat pembelajaran/peraga
h)
Melaksanakan kegiatan pembelajaranPenyampaian materi
pelajaran
i)
Ulangan harian, umum/semester, praktik
j)
Analisis hasil belajar, perbaikan dan pengayaan
k)
Mengisi daftar hadir siswa
l)
Memperhatikan kebersihan lingkungan, kelas/praktikum
2) Melaksanakan
tugas tertentu
3) Mengumpulkan
dan menghitung angka kredit naik pangkat
4) Selanjutnya
data keadaan guru lihat pada lampiran.
i.
Keadaan Siswa.
1) Jenis
siswa bedasarkan kelas dan jenis kelamin.
Data
siswa SMP Negeri 11 Samarinda berdasarkan kelas dan jenis kelamin dapat dilihat
pada table berikut ini:
Tabel 7 : Data
keadaan siswa berdasarkan kelas dan jenis klamin SMP Negeri 11
|
No
|
Kelas
|
Jumlah
|
Jumlah Siswa
|
Naik
|
Tidak
naik
|
Pindahan
|
||||
|
Rombel
|
Kelas
|
L
|
P
|
Jml
|
Masuk
|
Keluar
|
||||
|
1
|
VII
|
8
|
8
|
120
|
80
|
200
|
|
|
|
|
|
2
|
VIII
|
8
|
-
|
143
|
136
|
279
|
|
|
|
-
|
|
3
|
IX
|
8
|
8
|
143
|
111
|
254
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
24
|
16
|
406
|
327
|
733
|
|
|
|
|
|
Sumber
: Bagian kesiswaan SMP Negeri 11 Samarinda
B. Data Hasil Penelitian
Pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring
bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11
Samarinda tahun pelajaran 2012/2013, maka penulis mengadakan penelitian
lapangan. Dalam penelitian ini penulis mengolah data yang bersifat kuantitatif
sebab datanya masih harus diidentifikasi dalam bentuk angka.
Populasi yang diteliti adalah siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 120 orang siswa putra
dan sampel yang diambil adalah sebanyak 18 orang siswa putra atau sebesar 15,00%
dari jumlah populasi.
Adapun data hasil tes menggiring bola sebelum dan sesudah
latihan pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran
2012/2013 adalah sebagai berikut :
Tabel 8 : data kemampuan menggiring bola pada siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013
|
|
|
Menggiring Bola
|
|||
|
No
|
Nama
Siswa
|
Tes
Sebelum Latihan
|
Tes
Setelah Latihan
|
||
|
Waktu
|
Skor
|
Waktu
|
Skor
|
||
|
1
|
Adit
|
16 detik
|
2
|
13 detik
|
3
|
|
2
|
Ahmad Faisal
|
14 detik
|
3
|
10 detik
|
4
|
|
3
|
Aldi Akhmad Saputra
|
17 detik
|
2
|
14 detik
|
3
|
|
4
|
Cornelis Dimetrio C
|
13 detik
|
3
|
5 detik
|
5
|
|
5
|
Gustiawan Haeludin
|
19 detik
|
2
|
8 detik
|
4
|
|
6
|
Marsie
|
24 detik
|
1
|
18 detik
|
2
|
|
7
|
Reza Dika
|
18 detik
|
2
|
13 detik
|
3
|
|
8
|
M . Adam .H
|
19 detik
|
2
|
17 detik
|
2
|
|
9
|
M.Alfi
|
15 detik
|
3
|
8 detik
|
4
|
|
10
|
M. Hani Abdul Rohim
|
20 detik
|
2
|
12 detik
|
3
|
|
11
|
M. Iqbal
|
14 detik
|
3
|
5 detik
|
5
|
|
12
|
M. Nuryadin
|
19 detik
|
2
|
7 detik
|
4
|
|
13
|
M. Rahu F
|
12 detik
|
3
|
10 detik
|
4
|
|
14
|
M.Surya Saputra
|
25 detik
|
1
|
11 detik
|
3
|
|
15
|
Rahmat Dermawan
|
17 detik
|
2
|
14 detik
|
3
|
|
16
|
Rezky Darmawan
|
23 detik
|
1
|
12 detik
|
3
|
|
17
|
Riki Ananta
|
14 detik
|
3
|
4 detik
|
5
|
|
18
|
Vincent.Y
|
18 detik
|
2
|
14 detik
|
3
|
Sumber : diolah dari
hasil penelitian lapangan
Keterangan
:
Skor 5 = kategori menggiring bola dengan sangat baik
Skor 4 = kategori menggiring bola dengan baik
Skor 3 = kategori menggiring bola dengan cukup baik
Skor 2 = kategori menggiring bola dengan cukup
Skor 1 = kategori menggiring bola dengan kurang baik
C. Analisis Data
Dari data hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada
SMP Negeri 11 Samarinda tahun pelajaran 2012/2013 dan bila dikaitkan dengan penjelasan
atau analisis pada bab sebelumnya, maka selanjutnya dimasukan dalam tabel kerja
perhitungan korelasi Product Moment seperti yang terlihat di bawah ini :
Tabel 9 : Analisis Korelasi Product Moment menggiring bola dalam
permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun
pelajaran 2012/2013.
|
|
|
Menggiring Bola
|
|
|
|
|
|
No
|
Nama Siswa
|
Sebelum
Latihan
|
Setelah Latihan
|
X²
|
Y²
|
XY
|
|
X
|
Y
|
|
|
|
||
|
1
|
Adit
|
2
|
3
|
4
|
9
|
6
|
|
2
|
Ahmad Faisal
|
3
|
4
|
9
|
16
|
12
|
|
3
|
Aldi Akhmad Saputra
|
2
|
3
|
4
|
9
|
6
|
|
4
|
Cornelis Dimetrio C
|
3
|
5
|
9
|
25
|
15
|
|
5
|
Gustiawan Haeludin
|
2
|
4
|
4
|
16
|
8
|
|
6
|
Marsie
|
1
|
2
|
1
|
4
|
2
|
|
7
|
Reza Dika
|
2
|
3
|
4
|
9
|
6
|
|
8
|
M . Adam .H
|
2
|
2
|
4
|
4
|
4
|
|
9
|
M.Alfi
|
3
|
4
|
9
|
16
|
12
|
|
10
|
M. Hani Abdul Rohim
|
2
|
3
|
4
|
9
|
6
|
|
11
|
M. Iqbal
|
3
|
5
|
9
|
25
|
15
|
|
12
|
M. Nuryadin
|
2
|
4
|
4
|
16
|
8
|
|
13
|
M. Rahu F
|
3
|
4
|
9
|
16
|
12
|
|
14
|
M.Surya Saputra
|
1
|
3
|
1
|
9
|
3
|
|
15
|
Rahmat Dermawan
|
2
|
3
|
4
|
9
|
6
|
|
16
|
Rezky Darmawan
|
1
|
3
|
1
|
9
|
3
|
|
17
|
Riki Ananta
|
3
|
5
|
9
|
25
|
15
|
|
18
|
Vincent.Y
|
2
|
3
|
4
|
9
|
6
|
|
Jumlah
|
39
|
63
|
93
|
235
|
145
|
|
Sumber : diolah dari data tabel
sebelumnya
Berdasarkan data hasil analisis Korelasi Product Moment di
atas, maka dirumuskan lagi ke dalam sebuah hasil tabel persiapan perhitungan
koefisien korelasi dapat diketahui :
n = 18
∑X
= 39
∑Y = 63
∑X²
= 93
∑Y²
= 235
∑XY = 145
Berdasarkan data
tersebut selanjutnya dapat disajikan analisis koefisien korelasi product moment
sebagai berikut :
b = 
= 
= 
= 
= 1
a
= 
= 
= 
= 
= 1, 333
1.
Untuk mencari regresi dengan rumus
sebagai berikut :
Y = a +
bx
= 1 + 1,333X
Dengan ini diperoleh persamaan linear
yaitu Y = 1 + 1,333X yang berarti peningkatan perubahan latihan lari 30 meter
satu satuan akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan keterampilan
menggiring bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda sebesar = 1,333
2. Untuk
melihat hubungan keeratan kedua variabel dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
r = 
= 
= 
= 
= 
= 
r = 0,765
Hasil perhitungan
diperoleh koefisien korelasi (r) = 0,765 berarti mempunyai hubungan keeratan
kedua variabel hal ini karena dinilai dari r itu sendiri
3. Untuk
menghitung koefisien detreminasi atau hubungan pengaruh kedua variabel yaitu
dengan menggunakan rumus r²
r² = (r)²
= (0,765)²
r = 0, 585
Dari hasil analisis data tersebut di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa antara latihan lari 30 meter terhadap
kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII
SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013 pengaruhnya masuk kategori cukup,
karena hasil perhitungan r hitung sebesar 0,765 berada diantara 0,600 sampai
dengan 0,800 dari tabel interprestasi nilai rho.
Selanjutnya untuk menghitung tingkat
keeratan hubungan dan sekaligus untuk menguji hipotesis alternatif (Ha) yang
telah diajukan, maka kembali data ini dianalisis dengan menggunakan alat uji
berupa t-tes dengan rumus sebagai berikut :



t = 7, 167
Dari hasil analisis dengan menggunakan
uji t-test diperoleh nilai t-hitung sebesar 7, 167 dan nilai t-hitung ini akan
diinterpretasi dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% untuk jumlah N = 18
didapatkan nilai t-tabel sebesar 0, 468 dan pada taraf kesalahan 1% didapatkan
nilai t-tabel 0,590 maka t-hitung > t-tabel, berarti Ha diterima dan Ho
ditolak. Dengan demikian hipotesis altenatif (Ha) yang telah penulis ajukan
bahwa : “ada pengaruh latihan lari 30 meter terhadap kemampuan dalam menggiring
bola pada permainan sepak bola siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda
tahun ajaran 2012/2013” diterima.
D. Pembahasan
Dari
hasil perhitungan uji statistik dengan menggunakan Korelasi Product Moment
hasil perhitungan koefisien r sebesar = 0,765 hasil tersebut berada diantara 0,600
sampai dengan 0, 800 dalam kategori hubungan yang cukup. Dalam hal ini latihan
lari 30 meter mempunyai korelasi yang cukup terhadap kemampuan menggiring bola
dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda
tahun ajaran 2012/2013, hal ini juga menunjukan bahwa kemampuan dalam
menggiring bola sangat ditentukan oleh latihan lari 30 meter, disamping juga
masih ada faktor-faktor lain seperti adanya dorongan dari dalam, barulah
ditunjang oleh dorongan dari luar yaitu berupa latihan-latihan yang diberikan
secara teratur baik oleh guru atau pelatih. Latihan lari 30 meter adalah modal
dasar dalam permainan sepak bola khususnya dalam usaha peningkatan kecepatan
menggiring bola.
Jadi
setelah melihat hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa nilai t-hitung
lebih besar jika dibandingkan dengan nilai t-tabel pada taraf kesalahan 5% dan
1% yaitu masing-masing (7, 167 > 0,468>0, 590). Dengan demikian hipotesis
nihil (Ho) yang penulis kemukakan terdahulu yang berbunyi “tidak ada pengaruh
latihan lari 30 meter terhadap kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak
bola pada siswa putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013”
ditolak, yang menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima.
|
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan tersebut di atas, penulis mengemukakan simpulan
sebagai berikut :
1.
Dari hasil perhitungan diperoleh
persamaan linear yaitu Y = 1 + 1,333X yang berarti peningkatan perubahan
latihan lari 30 meter satu satuan akan memberikan kontribusi terhadap
peningkatan keterampilan menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa
putra kelas VII SMP Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013 sebesar = 1,333X
2.
Hasil perhitungan diperoleh koefisien
korelasi (r) = 0, 765 berarti mempunyai hubungan keeratan kedua variabel hal
ini dikarenakan nilai r mencapai 0, 765
3.
Koefisien determinasi diperoleh nilai r²
= 0, 585 berarti latihan lari 30 meter mempunyai pengaruh terhadap kemampuan
menggiring bola dalam permainan sepak bola pada siswa putra kelas VII SMP
Negeri 11 Samarinda tahun ajaran 2012/2013, hal ini menunjukan bahwa r² = 0,
585 merupakan kemampuan menggiring bola yang ditentukan oleh latihan lari 30
meter pada saat latihan tersebut diberikan, selebihnya ditentukan oleh faktor
lain di luar penelitian ini.
4.
Parameter dari keterampilan menggiring
bola merupakan hasil perbandingan antara harapan para peserta didik untuk
menguasai teknik menggiring bola dengan baik dan mendapatkan disiplin ilmu atau
kesuksesan dalam pelajaran. Bila tujuan peserta didik dengan pemberian latihan
yang sesuai dengan keinginan yang diaharpkan, maka akan merasa puas dan sukses,
sebaliknya bila keterampilan menggiring bola tidak sesuai dengan latihan yang
dijalankan, maka peserta didik akan merasa tidak sukses atau berhasil
5.
Dengan demikian harapan peserta didik
untuk mendapakan suatu latihan yang sesuai dengan disiplin ilmu yang dicanangkan,
maka pendidik atau guru berusaha menunjukan adanya keseriusan untuk
meningkatkan latihan agar keinginan peserta didik tersebut dapat terwujudkan,
sehingga sesuai dengan keinginan peserta didik, dengan latihan yang
diberikannya. Ini berarti harapan untuk mendapatkan keterampilan menggiring
bola dengan baik diharapkan dapat terealisasi, tentu dapat memberikan kesuksesan
bagi peserta didik.
6.
Dari pembuktian hipotesis terbukti bahwa
dengan demikian nilai t-hitung lebih besar jika dibandingkan dengan nilai
t-tabel pada taraf kesalahan 5% dan 1% yaitu masing-masing (7, 167 >
0,468>0, 590), maka dugaan hipotesis teruji kebenarnnya.
B. Saran
Berdasarkan
hasil pembahasan dan simpulan, maka penulis memberikan masukan terhadap SMP
Negeri 11 Samarinda sebagai berikut :
1.
Hendaknya latihan lari 30 meter dapat
dijadikan sebagai indikator dari beberapa bentuk latihan demi untuk
meningkatkan kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola
2.
Diharapkan Pembina olahraga khususnya di
SMP Negeri 11 Samarinda disarankan untuk menggunakan latihan lari 30 meter
untuk meningkatkan kemampuan menggiring bola dalam permainan sepak bola
3.
Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut
dengan sampel yang lebih besar dalam penelitian yang relevan, agar hasil yang
dicapai dalam penelitian ini, dapat dikembagkan untuk lebih mengembangkan
disiplin ilmu keolahragaan, khususnya dalam menentukan bentuk-bentuk latihan
yang sesuai dengan tuntutan dan pola gerak dalam permainan sepak bola.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar